Minggu, 24 Mei 2009

BERHASILKAH GARAM BERYODIUM SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENURUNAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY) DI INDONESIA?

BERHASILKAH GARAM BERYODIUM SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENURUNAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY) 
DI INDONESIA?


Atmarita
(Pengamat Garam beryodium)


I. PENDAHULUAN

 Garam beryodium sudah ada sebelum Indonesia merdeka dengan peraturan yang dikeluarkan pada zaman kolonial Belanda tahun 1927, akan tetapi peraturan tersebut tidak diberlakukan pada tahun 1945 dengan diberhentikannya monopoli garam. Upaya untuk mengurangi masalah GAKY dimulai lagi pada tahun 1976 bantuan UNICEF dengan berbagai keterbatasan: 1) prevalensi GAKY tidak tersedia, 2) tanggung jawab pemerintah belum jelas karena tidak ada regulasi yang mengikat; 3) tidak ada koordinasi sektor terkait. 

Tahun 1980/82, pertama kali dilakukan survei nasional yang menunjukkan prevalensi GAKY (dari Total Goiter Rate/TGR) adalah 30%. Intervensi dengan supplementasi Iodium dan garam beriodium dilakukan secara nasional. Evaluasi dilakukan kembali tahun 1995/1996 dan 1997/1998 dengan melakukan survei nasional untuk menilai perubahan TGR. Dilakukan analisis TGR pada lokasi yang sama dari survei 1980/82 dan 1995/1998 dan menunjukkan penurunan TGR dari 30% menjadi 14% . 

 Semenjak tahun 1995, pemerintah Indonesia meneruskan intervensi GAKY secara nasional dengan bantuan UNICEF dan Bank Dunia. UNICEF yang didukung oleh CIDA melakujan pemantauan garam beryodium bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan Bank Dunia mendukung program GAKY nasional semenjak tahun 1998 sampai dengan 2003, bertujuan untuk menurunkan prevalensi GAKY melalui pemantauan status GAKY pada penduduk, meningkatkan persediaan garam beriodium untuk dikonsumsi penduduk, dan juga meningkatkan kerja sama lintas sektor. 

 Pemantauan garam beryodium yang dilakukan UNICEF dan BPS 1995-1997 di seluruh Indonesia melakukan pemeriksaan garam beryodium tingkat konsumsi rumah tangga dengan jumlah sampel mewakili untuk gambaran kabupaten, yaitu 206.240 rumah tangga. Pemantauan garam beryodium ini dilanjutkan dengan bantuan Bank Dunia semenjak 1998 sampai sekarang. Pengujian garam beryodium dan pengumpulan data juga dilakukan oleh BPS (integrasi Susenas) dengan jumlah sampel rumah tangga yang sama dengan periode 1995-1997.

 Berikut ini merupakan analisis konsumsi garam beryodium dari tahun 1995 sampai dengan 2001. Untuk tahun 1995-1997, kajian dilakukan berdasarkan laporan yang sudah ada. Sedangkan tahun 1998-2001, kajian dilakukan dari data hasil survei garam pada tahun bersangkutan.


II. KONSUMSI GARAM BERYODIUM MENURUT PROVINSI

Penilaian konsumsi garam tingkat rumah tangga dilakukan dengan membedakan kandungan yodium dalam garam. Hasil penilaian memperlihatkan persentasi rumahtanga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup (>30 ppm), kurang (<30 ppm), dan tidak ada. Penulisan ini memfokuskan hanya pada rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup. 

GAMBAR 1
Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup
Menurut Provinsi: 1995-1997
 

GAMBAR 2
Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup
Menurut Provinsi: 1998-2000
 
Gambar 1 dan 2 di atas menunjukkan persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup periode 1995-1997 dan 1998-2000 . Secara nasional, pada periode tahun 1995-1997 menunjukkan adanya peningkatan persentasi rumah tangga dengan konsumsi garam beryodium cukup, yaitu: 49.8% (1995), 58.1% (1996), dan 62.1% (1997). Gambar 1 memperlihatkan perubahan antar provinsi. Ada 6 provinsi yang persentasinya menurun, dan provinsi Bengkulu menunjukkan penurunan 11%, diikuti Papua, Sumbar, Jakarta. Tiga provinsi penunjukkan peningkatan lebih dari 20% dari tahun 1995 ke tahun 1997, yaitu Jabar, Kalsel, dan Jatim. Sedangkan Jogja dan Sultra menunjukkan peningkatan antara 15-18%. Ada 13 provinsi yang persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium kurang dari 70%. Lima provinsi diantaraya (Maluku, Bali, NTB, NTT dan Sulsel) menunjukkan persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup kurang dari 40%. 

Gambar 2 berikut menunjukkan kecenderungan persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup tahun 1998 dan 2000. Secara nasional, ada perbaikan dibanding periode 1995-1997. Ada 12 dari 27 provinsi dimana persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup <70%. Seluruh provinsi di Jawa menunjukkan persentasi <70%, dimana Jogjakarta yang pada tahun 1997 sudah hampir mencapai 90%, pada tahun 2000 menurun menjadi <70%. NTT dan NTB masih tidak mengalami perubahan yang berarti dari tahun 1997 ke tahun 2000.
 
Untuk melihat perubahan yang terjadi dari tahun 1995 ke tahun 2000, gambar 3 menunjukkan peta Indonesia untuk persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup. Dibuat empat kategori: 1) Hijau (>90%); 2) Kuning (70-90%); 3) Merah (40-70%); dan 4) Hitam (<40%). Dari sini terlihat ada sedikit peningkatan penggunaan garam beryodium tingkat rumah tangga pada lima tahun terakhir. Akan tetapi ada beberapa provinsi menjadi memburuk dan juga tidak mengalami perubahan. Dapat dilihat, pada tahun 2000: 
1) 4 provinsi masuk pada kategori aman (>90%) 
2) Seluruh provinsi di Jawa dan Bali masih pada kategori merah (40-70%)
3) NTB dan NTT masih pada kategori hitam (<40%)
4) Aceh, Jakarta, dan Jawa Tengah tidak mengalami peningkatan (40-70%)
5) Kaltim mengalami penurunan dari kategori aman (>90%) menjadi 70-90%, dan Jogja dari kategori kuning (70-90%) menjadi merah (40-70%).

Persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup berdasarkan pengumpulan data BPS tahun 2000 ini dibenarkan menurut pengumpulan data yang dilakukan HKI pada tahun yang sama. Terutama pada provinsi Jabar, Jatim, Sulsel, Lampung, Lombok (NTB), dan Sumbar. Kecuali provinsi Jateng hasil HKI menunjukkan persentasi yang lebih tinggi dibandingkan data BPS (89.6% versus 52.6%). 

 
GAMBAR 3
PEMETAAN PERSENTASI RUMAH TANGGA MENGKONSUMSI GARAM DENGAN KANDUNGAN YODIUM CUKUP
TAHUN 1995 DAN 2000





 
III. KONSUMSI GARAM BERYODIUM MENURUT KABUPATEN

Analisis dilakukan pada data garam 1998 sampai dengan 2001. Jumlah kabupaten yang dianalisis adalah 297 dan bervariasi setiap tahun: 293 (1998), 294 (1999), 293 (2000), 282 (2001). Pada kajian ini menggunakan kabupaten yang sama dari tahun 1998 sampai dengan 2001. Jumlah kabupaten yang dianalisis pada tahun 2001 berbeda cukup banyak dengan tahun sebelumnya, karena provinsi Aceh dan beberapa kabupaten di Maluku tidak dilakukan pengumpulan data garam. 

  Analisis awal seperti yang tertera pada tabel 1 menunjukkkan ada kabupaten dimana persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup hanya 1,6% (1998), kemudian persentasi terendah ini meningkat menjadi 8,5% (2001). Rata-rata persentasi konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga tahun 1998 – 2001 berkisar pada 64-68%. Kabupaten terendah tahun 1998: Pidie (Aceh), 1999: Jeneponto (Sulsel), dan 2000-2001: Dompu (NTB). Jika dilihat distribusi menurut kabupaten, gambar 4 contoh dari Sulawesi Selatan, yang menunjukkan peningkatan konsumsi garam beryodium pada beberapa kabupaten, akan tetapi sebagian besar kabupaten dengan persentasi <40%. Terutama Jeneponto yang merupakan produsen garam, persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium tetap rendah (<10%).

Tabel 1. Persen rata-rata, minimum dan maksimum konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga tahun 1998-2001

Tahun Jumlah Kabupaten Persen minimum Persen maksimum Rata-rata Standar Deviasi
1998 293 1,6 100,0 65,49 29,02
1999 294 4,1 99,3 64,09 26,62
2000 293 4,8 100,0 65,86 24,50
2001 282 8,5 100,0 67,96 23,04

GAMBAR 4
Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup
Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan: 1998-2001
 
  Analisis selanjutnya adalah mengamati perubahan persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup 1998-2001 dengan mengelompokkan menjadi 4 kategori: 1) <40%,>90%. Dari data tahun 1998 dibandingkan dengan tahun berikutnya (1999-2001) jumlah kabupaten yang tetap, meningkat, atau memburuk, dengan hasil sebagai berikut:

Tahun 1998 dibanding tahun 1999

  Tahun 1999 Total
 Kategori <40%>90%  
 <40% 60 14 74
Tahun 1998 40-70% 8 40 8 56
 70-90% 17 59 8 84
 >90% 2 27 50 79
Total 68 73 94 58 293
 Tetap 71.33%  
 Memburuk 18.43%  
 Meningkat 10.24%  

Tahun 1998 dibanding tahun 2000

  Tahun 2000 Total
 Kategori <40%>90%  
 <40% 46 25 71
Tahun 1998 40-70% 6 42 8 56
 70-90% 20 52 12 84
 >90% 2 37 39 78
Total 52 89 97 51 289
 Tetap 61.94%  
 Memburuk 22.49%  
 Meningkat 15.57%  

Tahun 1998 dibanding tahun 2001

  Tahun 2001 Total
 Kategori <40%>90%  
 <40% 39 21 6 66
Tahun 1998 40-70% 1 43 9 1 54
 70-90% 23 42 16 81
 >90% 1 42 34 77
Total 40 88 99 51 278
 Tetap 56.83%  
 Memburuk 24.10%  
 Meningkat 19.06%  

Dari kajian ini terlihat, perubahan persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2001 belum optimal, dengan kondisi sebagai berikut:
1. 56,83% kabupaten bertahan pada kategori yang sama
2. 24,1% kabupaten memburuk atau pindah ke kategori yang lebih rendah
3. 19,06% kabupaten meningkat atau pindah ke kategori yang lebih tinggi

Dari table di atas dapat dilihat juga, jumlah kabupaten yang sudah mencapai kategori konsumsi >90% menurun dari 50 (1998) menjadi 34 (2001). 

IV. BAHASAN

Indonesia masih menghadapi masalah GAKY, walaupun upaya penanggulangannya sudah dilakukan semenjak sebelum kemerdekaan. Beberapa wilayah kabupaten, dan kecamatan masih dikategorikan daerah endemik GAKY. Dari pemetaan nasional masalah GAKY tahun 1997/1998 dan hasil pemantauan garam beryodium tingkat rumah tangga tahun 1998, diketahui bahwa pada wilayah dengan rata-rata TGR tinggi, pada umumnya konsumsi garam beryodium juga rendah, seperti yang terlihat pada table berikut:

Tabel 2. Konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga dan rata-rata TGR
Menurut jumlah kabupaten tahun 1998

Kategori konsumsi garam beryodium cukup tingkat rumah tangga Jumlah kabupaten Rata-rata TGR (%)
<40% 74 16.98
40-70% 56 8.35
70-90% 84 7.86
>90% 78 6.99

Intervensi kapsul beryodium ditargetkan pada daerah endemik sedang dan berat dan sasaran hanya terbatas pada wanita usia subur dan anak usia sekolah. Dengan demikian intervensi melalui konsumsi garam beryodium seyogyanya harus ditargetkan juga pada penduduk di seluruh klasifikasi GAKY (non endemik, endemik ringan, sedang, dan berat).

Berdasarkan pengamatan, industri garam pada umumnya berada di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, dan Madura. Petani garam banyak tersebar di seluruh Indonesia, dan memproduksi garam bertumpu pada sinar matahari dengan teknologi produksi yang masih sederhana dan garam yang dihasilkan pada umumnya berkadar air tinggi. Petani garam biasanya menjual garam yang mereka produksi ke pedagang (perantara) yang akan menjual garam tersebut ke produsen garam yang akan memproduksi garam beryodium. Produksi garam beryodium yang ada di Pulau Jawa juga mempunyai keterbatasan untuk memproduksi garam yang dapat didistribusi ke provinsi lain. Diperkirakan PT Garam hanya memproduksi 20% dari garam yang ada di Indonesia, dan selebihnya diproduksi oleh kurang lebih 300 perusahaan tingkat menengah dan dari 25000 petani garam. Banyak pula perusahaan garam dengan skala besar yang juga membeli garam dari luar negeri jika mutu garam rakyat kurang baik. Masalah yang dirasakan untuk proses yodisasi garam pada umumnya terjadi di tingkat produsen garam skala kecil yang mempunyai keterbatasan modal dan teknologi. 

Pemantauan produksi garam beryodium dilakukan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan bekerjasama dengan Departemen Kesehatan dan Badan POM. Informasi berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi garam beryodium dari ketiga sektor tersebut berjalan cukup baik. Banyak dijumpai kasus produsen garam yang memproduksi garam dengan kandungan yodium tidak memenuhi syarat. Walaupun sudah ada SNI dan regulasi pemerintah tentang garam beryodium, akan tetapi banyak terjadi pelanggaran dari regulasi yang ada. 

Akhir-akhir ini mulai dilakukan penegakan norma sosial (social enforcement) berkaitan dengan peningkatan konsumsi garam beryodium. Penegakan norma sosial tentang garam beryodium ini disebarluaskan ke seluruh pelaku yaitu: Produsen Garam, Masyarakat Umum sebagai konsumen, Elemen Penggerak (kelompok masyarakat), dan regulator (lembaga pemerintah). 

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Upaya penanggulangan GAKY, khususnya peningkatan konsumsi garam beryodium dirasakan sudah cukup. Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup bertahan pada 60-65%. Jika 35% dari rumah tangga yang belum mengkonsumsi garam beryodium adalah penduduk yang tidak mampu membeli garam beryodium, maka kemungkinan persentasi ini akan sulit meningkat. Dampaknya 

Masih belum tercapainya “universal” konsumsi garam beryodium memerlukan dukungan yang cukup kuat dari semua orang yang terlibat. Walaupun masyarakat sudah mengetahui pentingnya garam beryodium, bukan berarti konsumsi garam beryodium secara universal dapat dicapai. Karena hal ini menyangkut pada tersedia atau tidaknya garam di tingkat masyarakat, mampu atau tidaknya masyarakat membeli garam beryodium. Selain itu, walaupun garam beryodium tersedia di tingkat masyarakat, masih perlu diketahui apakah garam tersebut memenuhi persyaratan untuk dikonsumsi atau tidak.

Diperlukan strategi komprehensif untuk meningkatkan penyediaan garam beryodium untuk dikonsumsi masyarakat yang tersebar di ribuan pulau di Indonesia, yaitu:
1. Penegakan norma sosial peningkatan konsumsi garam untuk komponen terkait tersebut di atas (konsumen, elemen penggerak, produsen, dan pemerintah/regulator) terus dilakukan secara intemsif.
2. Peningkatan teknologi atau penerapan teknologi skala kecil untuk 25000 petani garam agar dapat memproduksi garam beryodium. Upaya ini diharapkan dapat mempersempit perbedaan harga garam, selain mengangkat masyarakat petani garam.
3. Berhubungan dengan butir 2, diperlukan pengembangan alat yodisasi garam skala kecil, selain untuk petani garam, alat tersebut dapat digunakan pada unit terkecil (kecamatan) yang menerima garam dari luar wilayah, untuk melakukan yodisasi garam.


BAHAN RUJUAN

1. BPS 1998. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 1995-1997
2. BPS 1998. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 1998.
3. BPS 1999. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 1999.
4. BPS 2000. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 2000.
5. BPS 2001. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 2001.
6. World Bank 2001. An analysis of combating Iodine Deficiency: Case Studies of China, Indonesia, and Madagascar.
Read rest of entry

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL SIMPOSIUM NASIONAL RAPI 2007 (14pt Bold)

Denny Vitasari1 , Ummu Latifah2 (12pt Bold)
1Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura 57102 Telp 0271 717417 ext 224
2Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura 57102 Telp 0271 717417 ext 223
Email: denny.vitasari@ums.ac.id 



Abstrak ( 10pt Bold)

Petunjuk ini merupakan format yang digunakan pada artikel Simposium Nasional Rekayasa Aplikasi Perancangan dan Industri (RAPI) 2007. Simposium ini diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Artikel diawali dengan judul artikel, nama penulis, dan alamat kontak, diikuti abstrak yang ditulis dengan huruf miring (Italic) sepanjang 150-250 kata dengan margin kiri 35 mm dan margin kanan 30 mm. Abstrak ditulis dengan format satu kolom. Judul artikel dan nama penulis (tanpa gelar akademis) ditulis rata tengah pada halaman pertama. Jarak antara judul dengan nama penulis adalah 2 spasi (10 pt) demikian juga untuk jarak alamat ke judul Abstrak juga 2 spasi. Jarak antara teks abstrak dengan judul abstrak 1 spasi. Kata kunci ditulis di bawah teks abstrak, disusun urut abjad dan dipisahkan oleh tanda titik koma. Penulis yang akan mempresentasikan makalah harus digaris bawahi (seperti contoh).

  Kata kunci: artikel; format penulisan; SRKP 2007

Pendahuluan 
Prosiding Simposium Nasional Rekayasa Aplikasi Perancangan dan Industri (RAPI) 2007 dengan nomor ISSN 1412-9612 akan disusun dari artikel yang disiapkan oleh peserta dan dikirim ke panitia penyelenggara. Untuk dapat dimuat dalam prosiding tersebut, artikel harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh panitia. Artikel harus ditulis pada halaman berukuran A4 dan dengan format margin kiri 25 mm, margin kanan 20 mm, margin bawah 25 mm dan margin atas 30 mm, serta harus diketik dengan jenis huruf Times New Roman dengan font 10 pt, satu spasi dan dalam format satu kolom. 
Artikel dibuat tanpa nomor halaman dan sebaiknya disusun dengan urut-urutan topik bahasan: Pendahuluan, Bahan dan Metode Penelitian (atau Pengembangan Model), Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Ucapan Terima Kasih (jika ada), Daftar Notasi (jika ada) dan Daftar Pustaka. Jarak antara sub judul dengan teks sebelumnya adalah satu spasi.

Petunjuk Umum 
Artikel dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Setiap makalah terdiri dari 6-8 halaman (3.000-5.000 kata) termasuk gambar dan tabel. Untuk gambar atau grafik yang berwarna, warna tetap akan dipertahankan dalam Prosiding berbentuk CD, namun disampaikan kepada peserta bahwa panitia hanya menyediakan prosiding cetak dalam format hitam-putih. Sub judul ditulis dengan huruf tebal dengan format Title Case dan disusun rata kiri tanpa nomor dan garis bawah. Sub sub judul ditulis dengan huruf tebal dengan format Sentence Case dan disusun rata kiri tanpa nomor dan garis bawah. Gambar diletakkan di dalam kelompok teks dan diberi keterangan Gambar dan nomor diikuti dengan judul gambar yang diletakkan di bawah gambar yang bersangkutan. Demikian juga untuk tabel tetapi diletakkan di atas tabel yang bersangkutan. Gambar harus dijamin dapat tercetak dengan jelas. Gambar dan tabel diletakkan di bagian tengah halaman.
Artikel dikirimkan dalam bentk soft copy file dalam CD atau melalui email (rapi2007@gmail.com). Artikel diharapkan diketik dengan Microsoft Word dan sudah siap untuk dicetak (Camera ready). Selain itu juga dilampirkan Data Pribadi Penyaji yang meliputi nama penulis (lengkap dengan gelar akademis), tempat dan tanggal lahir, instansi tempat bekerja, alamat korespondensi, alamat email, pendidikan, pengalaman penelitian dan publikasi terpilih. Perlu diperhatikan bahwa panitia akan melakukan perbaikan minor pada artikel yang masuk agar sesuai dengan format yang telah ditentukan.  
Artikel yang akan dipublikasikan di Prosiding Simposium Nasional Rekayasa Aplikasi Perancangan dan Industri (RAPI) 2007 ini dapat dikirimkan kepada alamat berikut:

Panitia RAPI 2007
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta 
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura 57102
Telp. 0271 717417 ext 246 
Email : rapi2007@gmail.com

Panduan Penulisan Persamaan
Setiap persamaan ditulis rata tengah dan diberi nomor yang ditulis di dalam kurung dan nomor tersebut ditempatkan di akhir margin kanan dari kolomnya. Persamaan harus dituliskan menggunakan Equation Editor dalam MS Word.
Contoh penulisan persamaan adalah sebagai berikut :
  (1)

V = R x I (1)


Sumber pustaka dituliskan di dalam uraian hanya terdiri dari nama penulis dan tahun penerbitannya. 

Contoh: 
Koefisien transfer massa di region I dipengaruhi oleh laju alir gas, sedangkan koefisien di region II dipengaruhi oleh kecepatan pengadukan (Lee and Foster, 1990; Shewale and Pandit, 2006).

Daftar Notasi (satuan harus menggunakan sistem Satuan Internasional (SI))

P = tekanan total, atm
R = konstanta gas, J/(kgmol K)
T = suhu operasi, K

Daftar Pustaka

Pustaka yang berupa majalah/jurnal ilmiah/prosiding
Garcia-Ochoa, F. F. and Gomez, E., (2004), "Theoretical prediction of gas-liquid mass transfer coefficient, specific area and hold-up in sparged stirred tanks" Chemical Engineering Science, Vol. 59 (12) pp. 2489-2501.
Pustaka yang berupa judul buku :
Paul, E. L., et al., (2004), "Handbook of Industrial Mixing", John Wiley & Sons, Inc., pp. 34-36
Pustaka yang berupa disertasi/thesis/skripsi
Sillanpaa, M. (2005), "Studies on Washing in Kraft Pulp Bleaching. Faculty of Technology", PhD Thesis, Department of Process and Environmental Engineering, Oulu, University of Oulu, Finland, pp. 100-105

Pustaka yang berupa paten/prosedur
Primack, H.S., (1983), “Method of Stabilizing Polyvalent Solutions”, U.S. Patent No. 4,373,104

Pustaka yang berupa bagian buku
Durst, R. A. and Bates, R. G., (2000), "Hydrogen-Ion Activity" in Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology, John Wiley & Sons, Inc.,Vol. 13., pp. 24-25
Read rest of entry

TUTORIAL PENGETIKAN SKRIPSI DENGAN MICROSOFT OFFICE WORD 2003

A. MENGENAL MICROSOFT OFFICE WORD 2003
1. Pendahuluan 
Microsoft Word (MS Word) merupakan program pengolah kata yang banyak dipakai saat ini dibandingkan dengan program pengolah kata lainnya, seperti WordStar, AmiPro, WordPerfect, dan lain-lain. Hal ini dipengaruhi oleh faktor fasilitas yang disediakan, kemudahan dalam menggunakan, hasil yang diperoleh, tampilan yang menarik dan lain sebagainya.  
Salah satu versinya adalah Microsoft Office Word 2003, merupakan pengembangan dari versi sebelumnya yang mengalami banyak perubahan dan perbaikan pada berbagai segi sehingga lebih fleksibel digunakan dan menyediakan fasilitas penuh terhadap akses internet dari setiap program aplikasinya. Kemampuan dalam membuat tabel, menyisipkan program lain ke program Microsoft Office Word 2003 dan fasilitas lainnya telah mengantarkan Microsoft Office Word 2003 sebagai program aplikasi pengolah kata yang mutakhir saat ini. Microsoft Office Word 2003 juga sering disebut Word 2003. 

2. Memulai Microsoft Office Word 2003
Word 2003 baru dapat dijalankan apabila sistem operasi Windows telah kita aktifkan. Langkah-langkah memulai bekerja dengan Word 2003 sebagai berikut : 
• Aktifkan Komputer terlebih dahulu
• Klik tombol Start yang ada pada batang taskbar
• Muncul sejumlah menu, pilih All Program
• Klik Microsoft Office kemudian Microsoft Word 2003 
• Tunggu hingga tampil layar Microsoft Word yang masih kosong
• Microsoft Word siap untuk digunakan
 
Gambar 1.
Cara mengaktifkan Microsoft Word

3. Mengenal Elemen Jendela MS-Word. 
Setelah Word 2003 kita aktifkan, maka akan tampil dokumen kosong dengan nama Document 1, seperti berikut :
 
• Menu Bar, berisi daftar menu yang dapat kita gunakan, dimana menu ini mempunyai sub menu masing-masing sesuai dengan fungsi dari menu induknya. Misalnya Menu File, maka sub menu-nya berisi segala hal yang berkaitan dengan file, begitu juga dengan menu yang lainnya. Standarnya menu ini terdiri dari Menu 
 
File, Edit, View, Insert, Format, Tools, Table, Windows dan Help tetapi daftar menu juga dapat kita tambahkan sesuai dengan keperluan kita.
• Toolbar Standar, merupakan kumpulan icon standar yang disediakan oleh Word 2003 secara otomatis. Walaupun begitu, icon dari toolbar ini juga dapat kita tambah atau dikurangi sesuai keperluan. Default dari toolbar ini terdiri dari icon sbb: 
 
Untuk mengetahui nama dari icon-icon tersebut dapat dilakukan dengan mengarahkan pointer mouse pada icon yang dituju, tunggu sesaat sehingga tampil nama dari icon tersebut. Misalnya kita arahkan pointer mouse pada icon yang bergambar printer, maka akan keluar informasi nama dari icon tersebut. Lihat gambar.
 
• Toolbar Formatting, termasuk toolbar default yang disediakan oleh Word 2003. Toolbar ini berisi icon-icon yang berfungsi dalam pemformatan pada Word 2003. 
 
• Ruler, sesuai dengan namanya, bagian ini berfungsi sebagai alat dalam penentuan margin (batas) dari lembar kerja. Baik itu batas kiri, kanan, paragraph, dll. Ruler ini dapat kita atur ukurannya, apakah centimeter, inchi, millimeter, points atau pica. Untuk menentukan ukuran ini dapat dilakukan dengan cara : Klik menu Tools, lalu klik Options pada kotak dialog Option. Klik General pada kotak pilihan measurement units tentukan jenis pengukuran yang diinginkan, lalu klik OK. 
• Scrollbar, berfungsi untuk menggeser lembar kerja. Jika menggeser lembar kerja ke kiri atau ke kanan gunakan horizontal scroll bar, atau menggeser lembar kerja ke atas atau bawah gunakan vertical scroll bar. 

4. Mengakhiri Word 2003 
  Jika Anda telah selesai bekerja dengan Word 2003, Anda dapat mengakhirinya dengan menggunakan langkah berikut ; 
1. Simpan terlebih dahulu lembar kerja Anda. 
2. Kemudian pilih salah satu langkah untuk mengakhiri penggunaan Word 2003 berikut ini : 
• Pilih dan klik File > Exit, atau 
• Klik tombol Close (X) yang berada pada pojok kanan atas jendela Word, atau 
• Tekan tombol Alt+F4 
3. Tunggu sampai jendela Word 2003 ditutup. 
 
B. UKURAN PENGETIKAN SKRIPSI
1. Ukuran Kertas
Naskah diketik diatas kertas A4 putih ukuran 21,5 cm X 29,7 cm, dengan berat 80 gram. Jika perlu menggunakan kertas khusus seperti kertas milimeter untuk grafik, kertas kalkir untuk bagan/gambar, dan yang sejenisnya, yang melebihi ukuran kertas, dimungkinkan dengan catatan kertas khusus tersebut dilipat sesuai ukuran naskah. 
Langkah-langkah mengatur ukuran kertas pada Word 2003 sebagaimana berikut ini :
• Pilih dan klik File pada Menu Bar
• Klik Page Setup

Gambar 2.
Mengatur ukuran kertas
• Klik Paper pada Bar di Page Setup

 

• Klik OK.

2. Sampul
Sampul dibuat dari karton tebal berwarna menarik dengan warna yang tidak mencolok dan tulisan di atasnya tampak jelas. 

3. Marjin
Batas tepi pengetikan (marjin) skripsi adalah sebagai berikut :
a. Marjin kiri = 4 cm
b. Marjin atas = 3 cm
c. Marjin kanan = 3 cm
d. Marjin bawah = 3 cm

Langkah-langkah mengatur marjin/ batas tepi pada Word 2003 sebagai berikut: 
• Pilih dan klik File pada Menu Bar

Gambar 3. 
Mengatur marjin halaman
• Klik Page Setup  
• Klik Margins pada Bar di Page Setup
 
• Klik OK

4. Spasi
Jarak antara baris (spasi) pengetikan naskah adalah 2 spasi. Pengetikan judul tabel dan judul gambar yang lebih dari satu baris adalah 1 spasi. Daftar kepustakaan diketik 1 spasi, sedangkan jarak pengetikan antara dua sumber kepustakaan adalah 2 spasi.
Langkah-langkah mengatur spasi pada Word 2003 sebagai berikut: 
• Pilih dan klik Format pada Menu Bar
• Klik Paragraph

 
Gambar 4.
Mengatur spasi (jarak antar baris)

• Klik Indent and Spacing. Pada Line Spacing kita ubah sesuai aturan penulisan skripsi. 
 

• Klik OK.

5. Paragraf
  Pengetikan alinea baru (paragraph) dimulai pada ketukan ke 6 dari marjin kiri, sedangkan jarak antar paragraph 3 spasi.

6. Huruf
Naskah diketik dengan komputer dengan menggunakan huruf yang standar, yakni huruf nomor 12 untuk Times New Roman dan Arial pada paket program Word 2003.

Langkah-langkah mengatur huruf pada Word 2003 sebagai berikut: 
• Pilih dan klik Format pada Menu Bar.
• Klik Font pada menu yang muncul di layer Anda. 
 
Gambar 5.
Mengatur jenis dan ukuran huruf
• Klik Font pada Bar di Font. Pilih Times New Roman.
• Pada Size, pilih ukuran 12. 
 
• Klik OK.
C. PENGETIKAN NASKAH
1. Bab, Sub-sub, dan anak sub-sub
Nomor dan nama bab ditempatkan di tengah marjin atas. Nomor bab ditulis dengan angka Romawi kapital (I,II,III dst), sedangkan nama bab ditulis dengan huruf kapital, dengan jarak 2 spasi. Nomor dan nama sub bab serta anak sub bab ditulis dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama setiap kata selain kata sandang. Nomor urut sub bab ditulis dengan abjad huruf kapital (A,B,C dst), sedangkan nomor urut anak sub bab dengan angka arab (1,2,3 dst).
Contoh : 
II ………. (Judul Bab)
2.1 ……………….. (Judul Subbab)
2.2 ……………….. (Judul Subbab)
2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
Langkah-langkah mengatur bab, sub-sub, dan anak sub-sub pada Word 2003 sebagai berikut: 
• Pilih dan klik Format pada Menu Bar.
• Klik Bullet and Numbering (lihat gambar 6)
• Akan tampil kotak seperti pada gambar 7.
• Kemudian klik Outline Numbered
• Pilih format yang sesuai dengan aturan skripsi. 
• Klik Customize
• Akan tampil kotak seperti pada gambar 8.
• Pada Level pilih 1
• Pada Number Format pilih 1
• Pada Number Style pilih 1,2,3,….
• Pada Start at pilih 1
• Klik OK
 
Gambar 6.
Mengatur penomoran pada bab, sub-sub, dan anak sub-sub

 
Gambar 7.
Kotak Bullet and Numbering
 
Gambar 8.
Customize Outline Nunbered List
2. Penomoran
Nomor halaman bagian awal skripsi ditulis dengan menggunakan huruf Romawi kecil (i,ii, iii, dst), dan ditempatkan di bagian tengah marjin bawah. Sedangkan nomor halaman batang tubuh dan bagian akhir skripsi ditulis dengan angka biasa dan ditempatkan di pinggir kanan marjin paling atas, kecuali halaman pertama setiap bab nomornya ditempatkan di bagian tengah marjin bawah.
Langkah-langkah penomoran halaman pada Word 2003 sebagai berikut: 
• Pilih dan klik Insert pada Menu Bar 
• Klik Page Numbers (lihat gambar 9)
• Akan muncul kotak seperti pada gambar 10.
• Pada Position pilih Bottom of Page
• Pada Alignment pilih Center
• Pada Show number on first page berikan tanda centang.
• Klik Format, kemudian akan muncul kotak seperti pada gambar 11
• Untuk bagian awal skripsi pada Number Format pilih i,ii,iii,…..
• Untuk bagian tubuh dan bagian akhir skripsi pada Number Format pilih 1,2,3,….. dengan Alignment menyesuaikan aturan di atas. 
• Klik OK


 
Gambar 9.
Menyisipkan nomor halaman


 
Gambar 10.
Kotak Page Numbers
 
Gambar 11.
Kotak Page Number Format

3. Huruf Miring
Huruf miring digunakan untuk judul buku, nama terbitan berkala, atau nama publikasi lainnya, dalam daftar pustaka. Huruf miring juga digunakan untuk istilah, kosa kata, kalimat, dan transliterasi bahasa asing atau bahasa daerah. Huruf miring dapat diganti dengan pemberian garis di bawah huruf yang harus dimiringkan, akan tetapi keduanya tidak boleh dikombinasikan.
Penggunaan Huruf Miring pada Word 2003 :
• Blok kata yang ingin diubah menjadi huruf miring. 
• Klik I pada Toolbar Formatting.(lihat gambar 12)
 
atau
• Pilih dan klik Format kemudian Font
• Pada Font Style pilih Italic

4. Penyajian Tabel
Fungsi tabel adalah menolong karangan, menerangkan data dengan efisien. Tabel harus dapat berfungsi sendiri, tanpa memerlukan tambahan keterangan dari naskah.
Penyajian tabel sedapat mungkin dalam satu halaman atau disambung pada halaman berikutnya. Namun jika ini terpaksa terjadi, maka pada halaman berikutnya jangan lupa diulangai lagi judul tabel dan keterangan pada kolom-kolom. Tulisan, nomor, dan nama tabel ditempatkan di atas tabel di tengah marjin kiri dan kanan, dengan jarak baris 1 spasi. Nomor tabel dibuat dengan angka biasa, dalam urutan untuk seluruh bab, dan dalam satu urutan tersendiri untuk seluruh lampiran. Tulisan dan nama tabel ditulis dengan huruf kecil, kecuali huruf awal semua kata selain kata sandang. Keterangan mengani sumber tabel (jika ada) ditempatkan di bawah tabel.

5. Penyajian Gambar
Disarankan supaya gambar disiapkan di kertas putih atau kertas kalkir dengan menggunakan tinta India. Semua tanda seperti titik, garis, tanda kali dan lainnya, supaya dibuat jelas dan tidak kabur (buram). Gambar juga sebaiknya disajikan dalam satu halaman. Pengertian gambar disini meliputi foto, grafik, diagram, skema, peta, bagan, dan sejenisnya. Tulisan, nomor dan nama gambar ditempatkan dibawah gambar di tengah margin kiri dan kanan, dengan jarak baris 1 spasi. Tulisan dan nama gambar mempergunakan huruf kecil, kecuali huruf pertama setiap kata selain kata sandang. Sumber pengambilan gambar (jika ada) ditempatkan di bawahnya (lihat lampiran 11).

D. ANOTASI ILMIAH
1. Penulisan Kutipan
Teks kutipan langsung yang kurang dari 40 kata ditulis diantara tanda kutip (“……”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dimana nama pengarang, tahun terbit buku, dan nomor halaman harus ditulis secara terpadu dalam teks. Lihat contoh berikut. 
Nama pengarang disebut dalam teks secara terpadu.
Zirmansyah (1993:146) menyimpulkan “Terdapat hubungan yang signifikans antara sikap terhadap pelajaran fisika dengan hasil belajar fisika”.
Nama pengarang disebut secara bersama dengan tahun terbit dan nomor halaman.
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ terdapat hubungan yang signifikans antara sikap terhadap pelajaran fisika dengan hasil belajar fisika” (Zirmansyah, 1993:146)
Jika didalam kutipan terdapat tanda kutip, maka digunakan tanda kutip tunggal (‘….’).
 Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat pengaruh kesehatan ‘sosial ekonomi’ keluarga terhadap tingkat kesehatan anak” (Yoga, 1992:211). 
Kutipan lebih dari 40 kata
Kutipan yang lebih dari 40 kata ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, dimulai setelah ketukan ke-5 dari marjin kiri, dan diketik dengan 1 spasi.
Contoh:
Sofyan (2000:31) menyatakan bahwa, segala bentuk teknologi itu dihasilkan oleh kegiatan penelitian dan pengembangan serta rekayasa ilmu pengetahuan, baik penelitian dasar maupun penelitian terapan yang batas-batasnya juga tidak selamanya tegas dan jelas. Untuk itu dalam jangka pendek, dan terutama untuk keperluan pengembangan daerah, Indonesia sangat memerlukan kegiatan penelitian, pengembangan dan rekayasa yang menghasilkan inovasi teknologi terapan, yang sedapat mungkin dilindungi oleh HAKI.
2. Penulisan Kutipan Tak Langsung
Kutipan yang disebut secara tak langsung atau dikemukakan dengan bahasa sendiri oleh penulis, maka ditulis tanpa tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama pengarang yang dikutip dapat terpadu dengan teks atau ditulis dalam tanda kurung bersama tahun terbit buku, sedangkan nomor halaman tidak perlu disebutkan.
Nama pengarang disebut terpadu dalam teks.
Aulia (2000) menyatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan, makin tinggi peluang untuk stress.
Nama pengarang disebut dalam kurung bersama tahun terbit.
Makin tinggi tingkat pendidikan, makin tinggi peluang stress (Aulia, 2000).
Penulisan Kutipan yang telah dikutip disuatu sumber.
Kutipan diambil dari suatu sumber yang juga sudah dikutip, dirujuk dengan cara menyebutkan nama penulis asli dan nama pengutip pertama serta tahun kutipannya. Catatan, cara seperti ini hanya dibolehkan jika sumber asli benar-benar sulit/tidak dapat ditemukan, karena dianggap keadaan yang terpaksa/darurat.
Contoh :
Elliot dan Adelman (dalam Siswoyo, 1997:19) menerangkan bahwa, triangulasi meliputi pengumpulan informasi mengenai situasi pengajaran dari tiga sudut pandang yang sangat berbeda; yaitu, informasi mengenai guru, para siswa, dan pengamat berperan serta. Siapa dalam “triangle (segi tiga) mengumpulkan informasinya, bagaimana memancing informasi, dan siapa yang membandingkannya.

3. Penulisan Kutipan dengan Catatan Kaki
Selain sebagaimana cara di atas, penulisan dalam pengutipan dapat juga menggunakan catatan kaki ( foot note). Penulisan catatan kaki adalah menggunakan angka Arab (1,2,3, dst), yang diketik naik 0,5 spasi di ujung kalimat yang dikutip. Jika sebuah kalimat memiliki beberapa catatan kaki karena memiliki terdiri dari beberapa kutipan, maka tanda catatan kaki ditempatkan sebelum tanda baca. Adapun jika kalimat hanya terdiri dari satu kutipan, catatan kaki ditempatkan sesudah tanda baca. Setiap bab memiliki catatan kaki dengan nomor urut tersendiri.
Contoh :
Abuscanto sendiri mendefinisikan ilmu sebagai “ … pengetahuan yang diperoleh melalui serangkaian proses yang dilakukan orang secara sistematis untuk membuat penemuan mengenai alam kodrati ”. Sementara itu Richter melihat ilmu sebagai metode dan Conan memandangnya sebagai serangkaian konsep yang berasal dari pengamatan dan percobaan.  
Nomor Catatan Kaki
Catatan kaki diberi nomor sesuai dengan nomor kutipan dalam tiap bab dimulai dengan nomor 1 (satu).


Bentuk Catatan Kaki
Dalam catatan kaki harus dicantumkan;nama pengarang, nama buku, nomor jilid, nama penerbit, tempat dan tahun penerbitan, halaman-halaman yang dikutip atau yang berkenaan dengan teks.
Contoh-contoh penulisan catatan kaki untuk :
a. Buku
b. Majalah
c. Surat Kabar
d. Karangan yang tidak diterbitkan
e. Wawancara
f. Ensiklopedi, dll.
Contoh-contohnya sebagai berikut :
a. Buku
Contoh :
 Maurice A. Richer, Jr. 1972. Science as a Cultural Process. Cambridge: Scheneman, h. 15. James B. Conan. 1961. Science and Common Sense. New Haven : Yale Univesity Press, h. 25.
Catatan kaki ditulis di bagian bawah naskah dengan urutan sbb: nomor catatan kaki, nama lengkap pengarang (tanpa gelar dan jangan dibalik,titik), judul tulisan (diketik miring/digaris bawahi),nama kota tempat terbit (titik dua),nama perusahaan penerbit (koma), tahun terbit (koma),nomor halaman (titik). Catatan kaki ditulis dengan jarak ketikan antar baris 1 spasi. Kalau pengarang memakai nama samaran, diantar tanda kurung besar kita cantumkan nama sebenarnya.
Contoh :
 HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). 1950. Sejarah Ummat Islam. Medan; Penerbit Islamiyah, Medan, h. 47.
Untuk buku dengan pengarang sampai tiga orang dituliskan nama seluruhnya dan jika lebih dari tiga orang hanya dituliskan nama pengarang pertama dengan menambahkan kata et al ( et alii; “dengan orang lain”) dibelakangnya :
Contoh :
 Sevilla Consuelo.B. 1984 (et al) An Introduction to Research Method. Philippines : Rex printing company, h. 60-67.
Untuk buku kumpulan karangan, ditulis nama editor dengan menambahkan (ed) di belakangnya :
 James R.Newman (ed). 1955. What is Science? New York : Simon and Schuster, h. 30.
Untuk buku terjemahan tetap menggunakan nama pengarang asli, diikuti nama penerjemah dibelakang judul buku :
 Peter F.Drucker. 1998. Inovasi dan Kewiraswastaan : Praktek dan Dasar, terjemahan Rusjdi Naib. Jakarta : Penerbit Erlangga, h.40.
Untuk buku yang tidak memiliki nama penulis dan nama editor, langsung dituliskan :
 IKIP Muhamadiyah Jakarta Press. 1966. Reorientasi Ilmu pendidikan di Indonesia. Jakarta.
Untuk buku yang tidak memiliki tempat terbit, nama penerbit, dan tahun terbit, dicantumkan tt (tanpa tahun), tpn (tanpa penerbit), sebagai berikut :
 Sayyid Qutub. Tt. Al-Adalat al-Ijtima’iyyah fi Al-Islam. Dar al-Kutub al-Arabi, h. 30.
b. Majalah
Urut-urutan penulisan untuk majalah adalah; nama pengarang (seperti pada buku), judul karangan (diantara tanda kutip), nama majalah (diberi bergaris/dicetak miring), nomor majalah (dengan angka romawi kalau ada), bulan dan tahun penerbitan, serta nomor halaman.
Contoh:
 Mochtar Naim, “Mengapa orang Minang Merantau” Tempo, 31 Januari 2001, h.12. 11L.J.Westwood, “The Role of The Teacher”, Educational Research IX No.3, Februari 2001, h.17.
c. Surat Kabar
 Republika, 29 Januari 2001, h.5.
d. Karangan yang tidak diterbitkan
 Zirmansyah, “ Keefektifan Pemahaman Konsep-Konsep Dasar Gelombang
dengan Bantuan Komputer”. Perpustakaan IKIP Yogyakarta, h. 112.
e.Wawancara
 Wawancara dengan Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhamadiyah Prof. Dr. HAMKA, 12 Januari 2001.
Mempersingkat catatan kaki
Jika suatu sumber telah pernah disebut dengan lengkap, yakni pada pertama kalinya, maka catatan kaki itu selanjutnya dapat dipersingkat dengan mempergunakan singkatan : ibid (kependekan dari ibidem = “pada tempat yang sama”), digunakan jika suatu kutipan diambil dari sumber lain, op. cit (kependekan dari iopere citatoi= “dalam karangan yang telah dikutip’), digunakan untuk menunjuk kepada suatu buku yang telah disebut sebelumnya namun telah diselingi oleh kutipan lain. loc. cit (kependekan dari loco citato = “dalam tempat yang telah dikutip”), digunakan kalau kita menunjuk kepada halaman yang sama dari sumber yang telah disebut. Contoh Pemakaian: ibid,op.cit., dan loc.cit.
 Muhammad Muslich. 1993. Metode Kuantitatif. Jakarta: Fakultas Ekonomi-UI, h.8. 
 Ibid, h.15.(berarti, dikutip dari buku tersebut diatas)
 Moh. Nazir, 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, h. 14.
 Saifuddin Azwar. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 41.
 Mar’at. 1984. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia, h.60.
 Moh. Nazir, op. cit., h. 21. (artinya buku yang telah disebut diatas. Perhatikan
penulisan op. cit, selain dimiringkan, juga diberi garis).
 Saifuddin Azwar, loc. cit. (artinya buku yang telah disebut diatas pada halaman yang sama. Perhatikan penulisan loc. cit, selain dimiringkan juga diberi garis).
Catatan :
Cara pengutipan dengan menggunakan catatan kaki seperti diuraikan di atas, memang agak rumit dan banyak seluk beluknya, namun dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan kejujuran ilmiah para mahasiswa.
4. Penulisan Daftar Kepustakaan
Semua buku yang dijadikan sumber untuk menyusun skripsi harus disebutkan dalam daftar kepustakaan. Nama-nama pengarang pada daftar kepustakaan disusun berdasarkan abjad.
Bila huruf pertama sama, maka kita lihat huruf ketiga dst, sampai kita temukan huruf yang berbeda. Kalau ada dua karangan atau lebih dari pengarang yang sama, tak usah dicantumkan dua kali, kita cukup membuat garis sepanjang delapan ketukan dari margin, sebagai pengganti nama pengarang tersebut.
Urut-urutan penulisan daftar kepustakaan adalah sbb: nama pengarang, ditulis dengan urutan: (1) nama akhir, nama awal, dan nama tengah, tanpa gelar (titik), (2) tahun penerbitan buku (titik), (3) judul,termasuk sub-judul ‘jika ada’ (dimiringkan atau digaris bawahi,yang penting konsisten) (titik), (4) tempat penerbitan (titik dua), dan (5) nama penerbit.
Berikut contoh-contoh penulisan Daftar Pustaka:
Sumber dari buku.
Pringgoadisurjo, Luwarsih. 1982. Pedoman Tertib Manulis dan Menerbitkan. Jakarta: Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional LIPI.
Winardi. 1986. Pengantar Metodologi Research. Bandung: P.T. Alumni. Kerlinger, Fred. N. 1986. Foundations of Behavioral Research. New York: Holt,
Rinehart and Winston. Inc.
Sumber dari buku yang berupa kumpulan artikel.
Aminudin (ed.). 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.
Sumber artikel dalam Jurnal
Contoh :
Djoemadi. 1994. Komparasi Dua Metode Demonstrasi dalam Pembentukan Ketrampilan. Jurnal Kependidikan Thn XXIV, No.1: 99 – 110.
Sumber dari Majalah atau Koran
Alfian, M.Alfan, 2001, 7 Februari. Makna Manuver Politik TNI. Republika, h. 6.
Sumber berupa terjemahan
Ary, D., L. C. Jacobs, dan A. Razavieh. 1988. Pengantar Penelitian Pendidikan. Terj. Arief Furchan. 1982. Surabaya: Usaha Nasional.




Sumber Tutorial Penulisan Skripsi: 
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA TAHUN 2004.
Kuliah Umum IlmuKomputer.com Copyright © 2003 IlmuKomputer.Com 
Petunjuk Penulisan Skripsi. Universitas Gunadarma. 
Read rest of entry

Langkah-langkah penyusunan tugas akhir (skripsi)

SILABUS MATA KULIAH

Program Studi : Diploma IV Fisioterapi
Kode Mata Kuliah : FIS 80243
Nama Mata Kuliah : Tugas Akhir (Skripsi) 
Jumlah SKS : 3 sks
Semester : VIII
Mata Kuliah Pra Syarat : Sudah menempuh mata kuliah semester I sampai dengan semester IV, Paket tudi pilihan semester V sampai dengan semester VI.
 
Deskripsi Mata Kuliah : 
Perkuliahan ini bertujuan agar mahasiswa mampu menerapkan serta mengkomunikasikan secara komprehensif ilmu pengetahuan dan teknologi fisioterapi. Ruang lingkup mencakup : Masalah Fisioterapi A (Pediatri, Geriatri, Obsgen), Fisioterapi B (muskuloskletal), Fisioterapi C (saraf Pusat dan Tepi), Fisioterapi D (Kardio-pulmunal-vaskuler), dan Fisioterapi E (Ergonomi, olahraga, dan K-3) yang ditinjau dari perkembangan ilmu, seni dan teknologi, dan penerapan prinsip-prisip. 

Standar Kompetensi :
a. Perkuliahan teori tentang penyusunan dan pembuatan tugas akhir dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
b. Bimbingan Penyusunan Proposal dan Pembuatan Tugas Akhir (Skripsi)
c. Seminar Proposal dan Sidang Tugas Akhir (Skripsi)  


Pertemuan Kompetensi Dasar Indikator Pengalaman Pembelajaran Materi ajar Waktu Alat/Bahan/ Sumber Belajar Penilaian
1 Dan 2 Memahami, membedakan dan memiliki wawasan mampu berpikir sistematis dan analitis dalam menerapkan ilmu dan teknologi serta pikir komprehensif baik melalui pendekatan deduktif dan induktif dalam menganalisis permasalahan 1. Melatih mahasiswa untuk menyusun hasil pemikiran dan penelitian yang telah dilakukan untuk kemudian menuangkan ke dalam Karya Ilmiah dengan cara-cara yang lazim digunakan oleh para ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan
2. Menambah pengetahuan orang lain, karena penempatan Karya Imiah di perpustakaan akan memberi kesempatan pada setiap orang yang berkunjung untuk membaca serta mengikuti uraian-uraian yang dikemukakan di dalamnya
3. Memperluas dan memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang masalah yang diteliti dan dibahas dalam karya ilmiah tersebut. Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan :
a. Perkuliahan teori tentang penyusunan dan pembuatan tugas akhir dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
b. Bimbingan Penyusunan Pembuatan Tugas Akhir
c. Seminar Pembuatan Tugas Akhir  
d. Pembuatan karya nyata ilmiah maupun inovasi dalam bidang fisioterapi Langkah-langkah penyusunan tugas akhir (skripsi) :
1. Memilih topik/Tema
2. Menentukan Masalah
3. Mengajukan judul
4. Survei pendahuluan atau pra eksperimen
5. Penyusunan proposal penelitian
6. Mengumpulkan data dan informasi
7. Penyelesaian skripsi 300 menit Buku pedoman penulisan tugas akhir (skripsi) Ujian sidang Proposal dan Ujian sidang skripsi

3 dan 4 Memahami, membedakan dan memiliki wawasan mampu berpikir sistematis dan analitis dalam menerapkan ilmu dan teknologi serta pikir komprehensif baik melalui pendekatan deduktif dan induktif dalam menganalisis permasalahan 1. Melatih mahasiswa untuk menyusun hasil pemikiran dan penelitian yang telah dilakukan untuk kemudian menuangkan ke dalam Karya Ilmiah dengan cara-cara yang lazim digunakan oleh para ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan
2. Menambah pengetahuan orang lain, karena penempatan Karya Imiah di perpustakaan akan memberi kesempatan pada setiap orang yang berkunjung untuk membaca serta mengikuti uraian-uraian yang dikemukakan di dalamnya
3. Memperluas dan memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang masalah yang diteliti dan dibahas dalam karya ilmiah tersebut. Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan :
a. Perkuliahan teori tentang penyusunan dan pembuatan tugas akhir dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
b. Bimbingan Penyusunan Pembuatan Tugas Akhir
c. Seminar Pembuatan Tugas Akhir
d. Pembuatan karya nyata ilmiah maupun inovasi dalam bidang fisioterapi Mekanisme pengajuan Proposal dan Skripsi :
1. SYARAT ADMINISTRASI
2. SYARAT AKADEMIK
3. TATACARA PENGAJUAN PROPOSAL DAN ATAU SKRIPSI
4. PELAKSANAAN PENELITIAN
5. PEMBIMBING
6. PEMBIMBINGAN
7. SEMINAR PROPOSAL
8. UJIAN SKRIPSI 300 menit Buku pedoman penulisan tugas akhir (skripsi) Ujian sidang Proposal dan Ujian sidang skripsi

5 dan 6 Memahami, membedakan dan memiliki wawasan mampu berpikir sistematis dan analitis dalam menerapkan ilmu dan teknologi serta pikir komprehensif baik melalui pendekatan deduktif dan induktif dalam menganalisis permasalahan 1. Melatih mahasiswa untuk menyusun hasil pemikiran dan penelitian yang telah dilakukan untuk kemudian menuangkan ke dalam Karya Ilmiah dengan cara-cara yang lazim digunakan oleh para ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan
2. Menambah pengetahuan orang lain, karena penempatan Karya Imiah di perpustakaan akan memberi kesempatan pada setiap orang yang berkunjung untuk membaca serta mengikuti uraian-uraian yang dikemukakan di dalamnya
3. Memperluas dan memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang masalah yang diteliti dan dibahas dalam karya ilmiah tersebut. Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan :
a. Perkuliahan teori tentang penyusunan dan pembuatan tugas akhir dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
b. Bimbingan Penyusunan Pembuatan Tugas Akhir
c. Seminar Pembuatan Tugas Akhir  
d. Pembuatan karya nyata ilmiah maupun inovasi dalam bidang fisioterapi PROPOSAL PENELITIAN : Proposal untuk penyusunan skripsi terdiri atas 3 bagian, yaitu : 1) Bagian awal, 2) Bagian utama, 3) Bagian akhir. 300 menit Buku pedoman penulisan tugas akhir (skripsi) Ujian sidang Proposal dan Ujian sidang skripsi

7 dan 8 Memahami, membedakan dan memiliki wawasan mampu berpikir sistematis dan analitis dalam menerapkan ilmu dan teknologi serta pikir komprehensif baik melalui pendekatan deduktif dan induktif dalam menganalisis permasalahan 1. Melatih mahasiswa untuk menyusun hasil pemikiran dan penelitian yang telah dilakukan untuk kemudian menuangkan ke dalam Karya Ilmiah dengan cara-cara yang lazim digunakan oleh para ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan
2. Menambah pengetahuan orang lain, karena penempatan Karya Imiah di perpustakaan akan memberi kesempatan pada setiap orang yang berkunjung untuk membaca serta mengikuti uraian-uraian yang dikemukakan di dalamnya
3. Memperluas dan memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang masalah yang diteliti dan dibahas dalam karya ilmiah tersebut. Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan :
a. Perkuliahan teori tentang penyusunan dan pembuatan tugas akhir dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
b. Bimbingan Penyusunan Pembuatan Tugas Akhir
c. Seminar Pembuatan Tugas Akhir  
d. Pembuatan karya nyata ilmiah maupun inovasi dalam bidang fisioterapi PENULISAN SKRIPSI :
1. Bagian Awal : Bagian awal mencakup : 1) halaman sampul luar, 2) halaman sampul dalam, 3) halaman pengesahan, dan 4) halaman persembahan, 5) halaman pengantar, 6) abstrak, 7) halaman daftar isi, 8) Halaman daftar tabel, 9) halaman daftar gambar, 10) halaman daftar lampiran.
2. Bagian Utama/Isi : Bagian isi skripsi mencakup : 1) Pendahuluan, 2) Tinjauan Pustaka, 3) metode penelitian, 4) hasil Penelitian, dan 5) pembahasan, dan 6) penutup
3. Bagian Akhir : Bagian ini merupakan bagian akhir yang tidak ditandai Judul Bab, tetapi penomoran halamannya melanjutkan nomor halaman sebelumnya. Bagian akhir meliputi daftar pustaka dan lampiran 300 menit Buku pedoman penulisan tugas akhir (skripsi) Ujian sidang Proposal dan Ujian sidang skripsi

9 dan 10 Memahami, membedakan dan memiliki wawasan mampu berpikir sistematis dan analitis dalam menerapkan ilmu dan teknologi serta pikir komprehensif baik melalui pendekatan deduktif dan induktif dalam menganalisis permasalahan 1. Melatih mahasiswa untuk menyusun hasil pemikiran dan penelitian yang telah dilakukan untuk kemudian menuangkan ke dalam Karya Ilmiah dengan cara-cara yang lazim digunakan oleh para ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan
2. Menambah pengetahuan orang lain, karena penempatan Karya Imiah di perpustakaan akan memberi kesempatan pada setiap orang yang berkunjung untuk membaca serta mengikuti uraian-uraian yang dikemukakan di dalamnya
3. Memperluas dan memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang masalah yang diteliti dan dibahas dalam karya ilmiah tersebut. Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan :
a. Perkuliahan teori tentang penyusunan dan pembuatan tugas akhir dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
b. Bimbingan Penyusunan Pembuatan Tugas Akhir
c. Seminar Pembuatan Tugas Akhir  
d. Pembuatan karya nyata ilmiah maupun inovasi dalam bidang fisioterapi PETUNJUK TEKNIS PENULISAN SKRIPSI :
1. BAHAN DAN UKURAN KERTAS
2. PENGETIKAN
3. PENOMORAN
4. DAFTAR PUSTAKA
5. TABEL
6. GAMBAR 300 menit Buku pedoman penulisan tugas akhir (skripsi) Ujian sidang Proposal dan Ujian sidang skripsi

11 dan 12 Memahami, membedakan dan memiliki wawasan mampu berpikir sistematis dan analitis dalam menerapkan ilmu dan teknologi serta pikir komprehensif baik melalui pendekatan deduktif dan induktif dalam menganalisis permasalahan 1. Melatih mahasiswa untuk menyusun hasil pemikiran dan penelitian yang telah dilakukan untuk kemudian menuangkan ke dalam Karya Ilmiah dengan cara-cara yang lazim digunakan oleh para ilmuwan dalam dunia ilmu pengetahuan
2. Menambah pengetahuan orang lain, karena penempatan Karya Imiah di perpustakaan akan memberi kesempatan pada setiap orang yang berkunjung untuk membaca serta mengikuti uraian-uraian yang dikemukakan di dalamnya
3. Memperluas dan memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang masalah yang diteliti dan dibahas dalam karya ilmiah tersebut. Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan :
a. Perkuliahan teori tentang penyusunan dan pembuatan tugas akhir dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi.
b. Bimbingan Penyusunan Pembuatan Tugas Akhir
c. Seminar Pembuatan Tugas Akhir  
d. Pembuatan karya nyata ilmiah maupun inovasi dalam bidang fisioterapi GAYA PENULISAN DAN BAHASA LAPORAN :
1. Konsistensi
2. Angka dan Lambang Bilangan
3. Tanda Desimal
4. Satuan Dasar Sistem Internasional
5. Penulisan Kata Asing
6. Penulisan Kata Latin
7. Pemakaian Huruf Kapital
8. Penulisan Kata Turunan
9. Gabungan Kata
10. Kata Depan di, ke, dan dari
11. Partikel pun
12. Pemakaian Tanda Baca
13. Penempatan
14. Pemenggalan Kata
15. Paragraf
16. Tabel dan Gambar
17. Melipat Kertas 300 menit Buku pedoman penulisan tugas akhir (skripsi) Ujian sidang Proposal dan Ujian sidang skripsi
Read rest of entry

PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

1. PENGERTIAN SKRIPSI :

Skripsi dapat diartikan sebagai karya tulis yang disusun oleh seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan kurang lebih 135 sks dengan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Utama dan Dosen Pembimbing II sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Pendidiksan S1 (Sarjana).

2. TUJUAN SKRIPSI 
Tujuan dalam Penulisan Skripsi adalah memberikan pemahaman terhadap mahasiswa agar dapat berpikir secara logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan serta dapat menuangkannya secara sistematis dan terstruktur.

3. ISI DAN MATERI 
Isi dari Penulisan Skripsi diharapkan memenuhi aspek-aspek di bawah ini :
1. Relevan dengan jurusan dari mahasiswa yang bersangkutan.
2. Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3. Masalah dibatasi, sesempit mungkin.









4. BENTUK LAPORAN PENULISAN SKRIPSI.

Bentuk laporan penulisan Skripsi Fakultas Ekonomi, Program Studi Manajemen dan Akuntansi untuk jenjang Akademik Strata Satu terdiri dari:

A. Bagian Awal.

Bagian Awal ini terdiri dari: 1. Halaman Judul
2. Lembar Pernyataan 
3. Lembar Pengesahan 
4. Abstraksi 
5. Halaman Kata Pengantar
6. Halaman Daftar Isi
7. Halaman Daftar Tabel
8. Halaman Daftar Gambar: Grafik, Diagram, Bagan, Peta dan sebagainya

B. Bagian Tengah.

Bagian tengah ini terdiri dari: 1. Bab Pendahuluan
2. Bab Landasan Teori
3. Metode Penelitian.
4. Bab Analisis Data dan Pembahasan 
5. Bab Kesimpulan dan Saran

C. Bagian Akhir.

Bagian akhir terdiri dari: 1. Daftar Pustaka
2. Lampiran  





Penjelasan secara terinci dari Struktur Penulisan Skripsi dapat dilihat sebagai berikut :

A. Bagian Awal.  
Pada bagian ini berisi hal-hal yang berhubungan dengan penulisan skripsi yakni sebagai berikut : 

1. Halaman Judul
 Ditulis sesuai dengan cover depan Penulisan Skripsi standar Universitas Gunadarma.

2. Lembar Pernyataan 
Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan skripsi ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.

3. Lembar Pengesahan
Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing, Daftar Nama Panitia Ujian yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Anggota. Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing dan Kepala Bagian Sidang Sarjana.

4. Abstraksi
 Yakni berisi ringkasan tentang hasil dan pembahasan secara garis besar dari Penulisan Skripsi dengan maximal 1 halaman.

5. Kata Pengantar
 Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan Skripsi (a.l. Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Pembimbing, Perusahaan, dll ).

6. Halaman Daftar Isi
Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan urut nomor halaman. 

7. Halaman Daftar Tabel  
8. Halaman Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram  

B. Bagian Tengah  

1. Pendahuluan
 Pada Bab Pendahuluan ini terdiri dari beberapa sub pokok bab yang meliputi antara lain : 

a. Latar Belakang Masalah 
Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.

b. Rumusan Masalah 
Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam penelitian yang bersangkutan.

c. Batasan Masalah 
Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari persoalan atau masalah yang dikaji dan bagian mana yang tidak.

d. Tujuan Penelitian 
Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti.

e. Metode Penelitian 

Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
 Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a. Studi Pustaka : Semua bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b. Studi Lapangan : Data diambil langsung di lokasi penelitian.
c. Gabungan : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.
 
f. Sistematika Penulisan 
 Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Skripsi 

2. Landasan Teori  
 Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.

3. Metode Penelitian 
Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang ada.

4. Analisis Data dan Pembahasan 
Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.


5. Kesimpulan (dan Saran)
 Bab ini bisa terdiri dari Kesimpulan saja atau ditambahkan Saran.
- Kesimpulan
 Berisi jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
- Saran
 Ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.

B. BAGIAN AKHIR 

- Daftar Pustaka
 Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan
.
- Lampiran 
 Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhi tungan, grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait sebelumnya.

  

5. TEKNIK PENULISAN

1. Penomoran Bab serta subbab
- Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
- Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab dimana bagian ini terdapat.
 II ………. (Judul Bab)
 2.1 ………………..(Judul Subbab)
 2.2 ………………..(Judul Subbab)
 2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
- Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, ukuran font 14, tebal.
- Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf besar, ukuran font 12, tebal.

2. Penomoran Halaman
- Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…).Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.
- Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari bab pertama adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal bab di bagian bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.
- Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok.


3. Judul dan Nomor Gambar / Grafik / Tabel
- Judul gambar / grafik diketik di bagian bawah tengah dari gambar. Judul tabel diketik di sebelah atas tengah dari tabel.
- Penomoran tergantung pada bab yang bersangkutan, contoh : gambar 3.1 berarti gambar pertama yang aga di bab III.

4. Penulisan Daftar Pustaka

- Ditulis berdasarkan urutan penunjukan referensi pada bagian pokok tulisan ilmiah.
- Ditulis menurut kutipan-kutipan 
- Menggunakan nomor urut, jika tidak dituliskan secara alfabetik
- Nama pengarang asing ditulis dengan format : nama keluarga, nama depan.
 Nama pengarang Indonesia ditulis normal, yaitu : nama depan + nama keluarga
- Gelar tidak perlu disebutkan.
- Setiap pustaka diketik dengan jarak satu spasi (rata kiri), tapi antara satu pustaka dengan pustaka lainnya diberi jarak dua spasi.
- Bila terdapat lebih dari tiga pengarang, cukup ditulis pengarang pertama saja dengan tambahan ‘et al’.
- Penulisan daftar pustaka tergantung jenis informasinya yang secara umum memiliki urutan sebagai berikut :
 Nama Pengarang, Judul karangan (digarisbawah / tebal / miring), Edisi, Nama Penerbit, Kota Penerbit, Tahun Penerbitan.
- Tahun terbit disarankan minimal tahun 2000

6. Penulisan Daftar Pustaka

Satu Pengarang

1. Budiono. 1982. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta : Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

2. Friedman. 1990. M. Capitalism and Freedom. Chicago : University of Chicago Press.

Dua Pengarang

1. Cohen, Moris R., and Ernest Nagel. 1939. An Introduction to Logic and Scientific Method. New york: Harcourt

2. Nasoetion, A. H., dan Barizi. 1990. Metode Statistika. Jakarta: PT. Gramedia

Tiga Pengarang

1. Heidjrahman R., Sukanto R., dan Irawan. 1980. Pengantar Ekonomi Perusahaan. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.

2. Nelson, R.., P. Schultz, and R. Slighton. 1971. Structural change in a Developing Economy. Princeton: Princeton University Press. 

Lebih dari Tiga Pengarang
1. Barlow, R. et al. 1966. Economics Behavior of the Affluent. Washington D.C.: The Brooking Institution.
2. Sukanto R. et al. 1982. Business Frocasting. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
Pengarang Sama
1. Djarwanto Ps. 1982. Statistik Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
2. ____________. 1982. Pengantar Akuntansi. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.

Tanpa Pengarang  
1. Author’s Guide. 1975. Englewood Cliffs, N.J. : Prentice Hall.
2. Interview Manual. 1969. Ann Arbor, MI: Institute for Social Research, Universiy of Michigan.

Buku Terjemahan, Saduran atau Suntingan.
1. Herman Wibowo (Penterjemah). 1993. Analisa Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Erlangga.
2. Karyadi dan Sri Suwarni (Penyadur). 1978. Marketing Management. Surakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret. 

Buku Jurnal atau Buletin 
1. Insukindro dan Aliman, 1999. “Pemilihan dan Bentuk Fungsi Empirik : Studi Kasus Permintaan Uang Kartal Riil di Indonesia”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 14, No. 4:49-61.
2. Granger, C.W.J., 1986. “Developments in the Study of Co-integrated Economic Variables”, Oxford Bulletin of Economics and Statistics, Vol.48 : 215-226.
 


5. Format Pengetikan
- Menggunakan kertas ukuran A4.
- Margin Atas : 4 cm Bawah : 3 cm
  Kiri : 4 cm Kanan : 3 cm
- Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
- Jenis huruf (Font) : Times New Roman.  
- Ukuran / variasi huruf : Judul Bab 14 / Tebal + Huruf Besar
  Isi 12 / Normal
  Subbab 12 / Tebal

6. Hasil Penulisan Skripsi 

- Dijilid berbentuk buku dengan jumlah halaman paling sedikit 12 (dua belas) halaman tidak termasuk cover, halaman judul, daftar isi, kata pengantar dan daftar pustaka

- Dipresentasikan dan dianjurkan menggunakan Power Point pada saat pelaksanaan Sidang Sarjana (S1) di hadapan para penguji Sidang.  

- Diketik dengan menggunakan Program Software Pengolah Kata, misal : Ms Word 
- Dicetak dengan printer (dianjurkan dengan LASER PRINTER)




6. LAMPIRAN.

Lampiran ini berisi data, gambar, tabel atau analisis dan lain-lain yang karena terlalu banyak, sehingga tidak mungkin untuk dimasukkan kedalam bab-bab sebelumnya.


7. KUTIPAN

 Dalam penulisan hasil penelitian ilmiah biasanya dimasukkan kutipan-kutipan. Ada beberapa macam kutipan sebagai berikut:

a. Kutipan langsung (Direct Quatation) yang terdiri dari kutipan langsung pendek dan kutipan langsung panjang. Kutipan langsung pendek adalah kutipan yang harus persis sama dengan sumber aslinya dan ini biasanya untuk mengutip rumus, peraturan, puisi, difinisi, pernyataan ilmiah dan lain-lain. Kutipan langsung pendek ini adalah kutipan yang panjangnya tidak melebihi tiga baris ketikan. Kutipan ini cukup dimasukkan kedalam teks dengan memberi tanda petik diantara kutipan tersebut. Sedangkan kutipan panjang langsung adalah kutipan yang panjangnya melebihi tiga baris ketikan dan kutipan harus diberi tempat tersendiri dalam alinea baru.

b. Kutipan tidak langsung (Indirect Quatation) merupakan kutipan yang tidak persis sama dengan sumber aslinya. Kutipan ini merupakan ringkasan atau pokok-pokok yang disusun menurut jalan pikiran pengutip. Baik kutipan tidak langsung pendek maupun panjang harus dimasukkan kedalam kalimat atau alinea. Dalam kutipan tidak langsung pengutip tidak boleh memasukkan pendapatnya sendiri. 

 Catatan kaki atau footnone adalah catatan tentang sumber karangan dan setiap mengutip suatu karangan harus dicantumkan sumbernya. Kewajiban mencantumkan sumber ini untuk menyatakan penghargaan kepada pengarang lain yang menyatakan bahwa penulis meminjam pendapat atau buah pikiran orang lain. Unsur-unsur dalam catatan kaki meliputi: nama pengarang, judul karangan, data penerbitan dan nomor halaman. 

 Ada dua cara dalam menempatkan sumber kutipan sebagai berikut:

a. Cara ringkas yaitu menempatkan sumber kutipan dibelakangbahan yang dikutip yang ditulis dalam tanda kurung dengan menyebutkan “Nama pengarang, Tahun penerbitan dan Halaman yang dikutip”.

b. Cara langsung yaitu menempatkan sumber kutipan langsung dibawah pernyataan yang dikutip yang dipisahkan dengan garis lurus sepanjang garis teks. Jarak antara garis pemisah dengan teks satu spasi, jarak antara garis pemisah dengan sumber kutipan dua spasi, dan jarak baris dari kutipan harus satu spasi.

 
Contoh : Format Halaman Judul 














































Contoh : Format Halaman Pernyataan 



   


































   
   







Contoh : Format Lembar Pengesahan.


KOMISI PEMBIMBING
 

NO. NAMA KEDUDUKAN 
1.  
2.  
3.  
4.  
   
Tanggal Sidang : …./……/………


PANITIA PENGUJI 


NO. NAMA KEDUDUKAN 
1.  
2.  
3.  
4.  
5.  

  Tanggal Lulus : …./……/………



Mengetahui,


   
  Pembimbing Bagian Sidang Sarjana 




( Prof. Suryadi HS.,Ssi.,MMSI) ( Drs. Edi Sukirman, MM.)
Contoh : Format Penulisan Abstraksi 


ABSTRAKSI


FAUZAN AMMARI S. 22299000
ANALISIS PENERAPAN SISTEM ACTIVITY BASED COSTING DALAM MENINGKATKAN 
AKURASI BIAYA PADA PT PRIMA JAYA

Skripsi . Fakultas Ekonomi. 2004 
Kata kunci : Activity Based Costing, Biaya 

( ix + 67 + lampiran )

Abstraksi merupakan pemadatan dari hasil penelitian / tulisan. Ditulis 1 spasi dengan jumlah maksimum 200 kata (maksimum 1 halaman). Isi abstraksi mencakup tujuan atau pertanyaan yang ingin dijawab oleh peneliti, metode penelitian / penulisan, dan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


Daftar Pustaka ( 1990 – 2002) 



 
Contoh : Format Daftar Isi 









































DAFTAR TABEL







Contoh : Format Daftar Tabel 




DAFTAR TABEL


  Halaman 

Tabel 3.1 Hasil Penjualan Produk periode 20XX 28
Tabel 3.2 Jumlah Bahan Baku selama Th 20XX 29
Tabel 4.1 Biaya Overhead Pabrik per Departemen 30
Tabel 4.2 Daftar Tenaga Kerja Langsung 35
Tabel 4.3 Daftar Staf Bagian Pabrik 38
  

Catatan : Tabel 4.1 menunjukkan tabel yang terletak pada Bab IV dengan urutan tabel No 1 

 




Contoh : Format Daftar Gambar 


DAFTAR GAMBAR 

  Halaman 


Gambar 2.1 Biaya Tetap (Fixed Cost) 13
Gambar 2.2 Biaya Variabel (Variable Cost) 14
Gambar 4.1 Proses Produksi 34
Gambar 4.2 Proses Pembuatan Produk 35
Gambar 4.3 Struktur Organisasi Pabrik 38
  

Catatan : Gambar 4.3 menunjukkan gambar yang terletak pada Bab IV dengan urutan gambar No 3
Read rest of entry

RI-GRID: USULAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR KOMPUTASI GRID NASIONAL

Bobby Nazief, Ph.D
Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia
Kampus UI, Depok


ABSTRAK

Dalam makalah ini akan diusulkan RI-GRID, suatu arsitektur sistem komputer berkinerja tinggi di tingkat nasional yang memanfaatkan teknologi grid computing yang ada (beberapa di antaranya: Globus Toolkit 4, Condor, PVM, MPI) sebagai komponen pembangunnya. Dengan terbentuknya infrastruktur komputasi grid nasional ini, diharapkan kebutuhan para peneliti akan sumber daya komputasi dapat dipenuhi dan pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat kompetitif bangsa ini.

Kata kunci: grid computing, distributed computing


 
1. PENDAHULUAN

1.1. Kebutuhan Sumber Daya Komputasi pada Pengembangan e-Science
Saat ini, para peneliti sudah amat menyadari pentingnya peran komputer dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Komputer memungkinkan para peneliti untuk menciptakan laboraturium virtual dalam komputer untuk melakukan eksperimen-eksperimen yang akan mahal sekali jika dilakukan di dalam sebuah laboraturium fisik atau bahkan tidak mungkin.

Beberapa pihak bahkan telah memberikan nama tersendiri untuk menggambarkan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis komputer ini dengan sebutan e-Science [7].

1.2. Mahalnya sumber daya komputasi
Untuk melakukan eksperimen dengan menggunakan komputer dalam konteks pengembangan e-Science di atas umumnya dibutuhkan sumber daya komputasi yang berkinerja tinggi (atau juga dikenal dengan sebutan high performance computing). Pada beberapa dekade yang lalu, sumber daya komputasi berkinerja tinggi ini hanya dapat dipenuhi oleh komputer yang dikategorikan sebagai supercomputer (seperti komputer Cray X-MP, CDC, Illiac-IV).

Supercomputer memang dapat memenuhi kebutuhan para peneliti e-Science, namun karena harganya yang mahal, hanya sedikit dari para peneliti tersebut yang dapat memilikinya/menggunakannya.

Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer, baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak, saat ini sumber daya komputasi berkinerja tinggi tidak lagi harus dipenuhi oleh komputer-komputer berkategori supercomputer. Bahkan dengan teknologi komputer yang dikenal dengan nama grid computing, sejumlah komputer yang lazim digunakan di perkantoran dapat digabung untuk secara bersama-sama melakukan eksperimen seperti yang dahulu biasa dilakukan oleh supercomputer.

1.3. Grid Computing sebagai Solusi
Bagi para peneliti di negara-negara yang kemampuan ekonominya terbatas maka solusi yang diberikan oleh teknologi grid computing ini merupakan suatu alternatif yang harus dipertimbangkan dengan amat serius. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk yang dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer (e-Science), tidak harus terhenti hanya karena keterbatasan dana.

Teknologi grid computing memungkinkan para peneliti memanfaatkan sumber daya komputasi yang telah ada semaksimal mungkin. Dengan menggunakan teknologi ini, para peneliti dapat menggabungkan komputer-komputer yang berada di tempat-tempat yang secara geografis terpisah menjadi suatu kesatuan sistem komputer. Gabungan banyak komputer ini secara keseluruhan mampu menyediakan sumber daya komputasi yang setara atau bahkan lebih dengan komputer berkategori supercomputer. Lebih lanjut, sistem komputer ini dapat digunakan secara bersama-sama oleh para peneliti yang juga berasal dari intansi-instansi yang lokasinya berlainan.

Secara keseluruhan, tidak saja teknologi grid computing memungkinkan para peneliti di negara seperti Indonesia menerapkan e-Science untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan biaya yang relatif “terjangkau”, tetapi juga dapat memanfaatkan sumber daya komputasi yang ada seefisien mungkin secara bersama-sama oleh banyak peneliti.  

2. GRID COMPUTING

2.1. Evolusi Grid Computing
Teknologi grid computing merupakan teknologi yang telah dikembangkan dalam waktu yang panjang. Secara evolusi kita melihat pengembangan teknologi sejenis mulai dari Condor [10], kemudian diikuti oleh PVM (Parallel Virtual Machine) [8] dan MPI (Message Passing Interface) [9], sampai dengan Globus Toolkit [4]. Sejak awal, para peneliti di bidang komputasi berkinerja tinggi telah menggunakan dua pendekatan [13], (1) supercomputer, membangun sebuah komputer dengan teknologi perangkat keras berkinerja tinggi, dan (2) multicomputer, membangun sebuah sistem komputer dengan teknologi jaringan interkoneksi dan perangkat lunak. Pendekatan pertama umumnya menghasilkan sebuah komputer yang berkinerja tinggi, tetapi berharga amat mahal sehingga hanya dapat dimiliki oleh segelintir pihak saja. Pendekatan kedua menghasilkan suatu sistem komputer yang kinerjanya bervariasi sesuai jumlah komputer yang tergabung dan konfigurasi perangkat lunak yang digunakan.

Walaupun harga suatu sistem komputer berkinerja tinggi yang dibangun dengan pendekatan multicomputer lebih terjangkau dibandingkan dengan supercomputer, pemakaiannya masih terbatas. Sistem komputer berbasis jaringan tersebut umumnya diterapkan pada komputer-komputer yang terhubung dalam suatu jaringan lokal (LAN). Salah satu penyebabnya adalah masalah keamanan jaringan yang belum tertangani dengan baik. Selain itu, sistem perangkat lunak pendukung yang memungkinkan komputer-komputer tersebut bekerja sebagai satu kesatuan umumnya memiliki konfigurasi yang kompleks sehingga penggunanya harus memiliki keahlian tersendiri sebelum dapat memanfaatkan sistem komputer tersebut.

Sejalan dengan perkembangan teknologi Internet dan teknologi-teknologi komputer yang berkaitan lainnya seperti protokol komunikasi data, teknologi keamanan jaringan, teknologi pemgrograman terdistribusi, dan teknologi bahasa pemrograman yang independen terhadap arsitektur komputer maka sistem komputer berkinerja tinggi berbasis jaringan menjadi lebih mudah untuk diimplementasikan dan digunakan.

2.2. Grid Computing & Solusi yang Ditawarkan
Pada beberapa tahun belakangan ini, sekelompok peneliti di bidang komputasi berkinerja tinggi secara serius memusatkan perhatian pada pengembangan sistem komputer berbasis jaringan seperti yang telah diuraikan di atas dengan menggunakan teknologi yang dikenal dengan sebutan teknologi grid computing [5].

Teknologi grid computing adalah suatu cara penggabungan sumber daya yang dimiliki banyak komputer yang terhubung dalam suatu jaringan sehingga terbentuk suatu kesatuan sistem komputer dengan sumber daya komputasi yang besarnya mendekati jumlah sumber daya komputasi dari komputer-komputer yang membentuknya. Lebih lanjut, sebagian atau seluruh sumber daya komputasi ini dapat dipakai oleh penggunanya sesuai kebutuhan masing-masing. Penamaan “grid” disini meminjam istilah yang digunakan dalam ketenagalistrikan [7], dimana pembangkit-pembangkit tenaga listrik dihubungkan satu sama lain untuk secara bersama-sama memasok kebutuhan tenaga listrik penggunanya. Masing-masing pengguna hanya menggunakan sebagian dari daya listrik yang dihasilkan oleh seluruh pembangkit tenaga listrik tersebut.

Berbeda dengan teknologi-teknologi pendahulunya seperti Condor, PVM, atau MPI, teknologi grid computing dilengkapi oleh komponen-komponen yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya komputasi yang terhimpun secara lebih optimal dan aman. Untuk melihat komponen-komponen dari teknologi grid computing ini, disini akan diuraikan dengan singkat sistem Globus Toolkit yang dikembangkan oleh para peneliti di Argonne National Laboratory, Amerika Serikat [4]. Sistem Globus Toolkit merupakan salah satu teknologi grid computing yang populer dan banyak digunakan oleh pihak-pihak yang ingin mengintegrasikan sumber daya komputasi mereka yang tersebar menjadi satu kesatuan.

Secara spesifik, sistem Globus Toolkit yang akan dibahas disini adalah sistem Globus Toolkit versi 4 (GT4) [6], yang merupakan versi mutakhir dari sistem Globus Toolkit. Sistem GT4 dibangun dengan menggunakan teknologi Web Services [2] yang telah berkembang menjadi suatu standar dalam pengembangan perangkat lunak terdistribusi. Teknologi Web Services memungkinkan GT4 mengadopsi konsep berorientasi layanan (service-oriented) yang menggunakan layanan, bukan perangkat keras, sebagai komponen dasar bangunannya. Di atas Web Services ini GT4 membangun komponen-komponen utama dari sistem komputasi grid berikut ini.

GRAM: Grid Resource Allocation & Management
Komponen ini bertanggung jawab dalam mengelola seluruh sumber daya komputasi yang tersedia dalam sistem komputasi grid. Pengelolaan ini mencakup eksekusi program pada seluruh komputer yang tergabung dalam sistem komputasi grid, mulai dari inisiasi, monitoring, sampai penjadwalan (scheduling) dan koordinasi antar-proses.

Suatu hal yang menarik dengan sistem GT4 adalah kemampuannya untuk bekerja sama dengan sistem-sistem pengelolaan sumber daya komputasi yang telah ada sebelumnya seperti Condor, PVM, atau MPI. Dengan mekanisme ini maka program-program yang telah dibangun sebelumnya tidak perlu dibangun ulang atau kalaupun harus dimodifikasi, modifikasinya minimum, jika akan dijalankan dalam lingkungan komputasi grid berbasis GT4.

RFT/GridFTP: Reliable File Transfer/Grid File Transfer Protocol
Komponen ini memungkinkan pengguna mengakses data yang berukuran besar dari simpul-simpul komputasi yang tergabung dalam sistem komputasi grid secara efisien dan dapat diandalkan. Hal ini penting karena kinerja komputasi tidak saja bergantung pada seberapa cepat komputer-komputer yang tergabung dalam sistem komputasi grid ini mengeksekusi program, tetapi juga seberapa cepat data yang dibutuhkan dalam komputasi tersebut dapat diakses. Perlu diingat bahwa, data yang dibutuhkan oleh suatu proses tidak selalu berada pada komputer yang mengeksekusi proses tersebut.

MDS: Monitoring & Discovery Service
Komponen ini memungkinkan pengguna sistem GT4 melakukan monitoring proses komputasi yang tengah berjalan sehingga masalah yang timbul dapat segera diketahui. Sementara itu, aspek discovery dari komponen ini memungkinkan pengguna mengidenti-fikasi keberadaan suatu sumber daya komputasi berikut karakteristiknya.


GSI: Grid Security Infrastructure
Komponen ini bertanggung jawab atas keamanan sistem komputasi grid secara keseluruhan. Komponen ini pula yang merupakan salah satu ciri pembeda teknologi GT4 dengan teknologi-teknologi pendahulunya seperti PVM atau MPI. Dengan diterapkannya mekanisme keamanan yang terintegrasi dengan komponen-komponen komputasi grid lainnya, sistem berbasis teknologi grid computing seperti GT4 dapat diakses oleh publik (WAN) tanpa menurunkan tingkat keamanannya.

Sistem keamanan GT4 dibangun atas komponen-komponen standar keamanan yang telah teruji, yang mencakup proteksi data, autentikasi, delegasi, dan autorisasi. Konfigurasi dasar GT4 mengasumsikan baik pengguna maupun layanan menggunakan standar keamanan yang menggunakan standar kunci publik X.509.

3. RI-GRID 

3.1. Infrastruktur Komputasi Grid Nasional
Dengan meningkatnya kebutuhan para peneliti akan sumber daya komputasi untuk melakukan e-Science seperti telah disebutkan dimuka dan berkembangnya teknologi grid computing maka beberapa negara telah mengambil inisiatif untuk mengimplementasikan infrastruktur komputasi grid di tingkat nasional. Beberapa contoh di antaranya: India [12], Singapura [1], dan Jepang [11].

Suatu infrastruktur komputasi grid di tingkat nasional akan dapat menekan biaya investasi dibandingkan bila masing-masing institusi penelitian di negara tersebut harus mengadakan perangkat komputasinya sendiri-sendiri. Lebih lanjut, sistem komputasi grid yang menuntut penggunaan sumber daya komputasi secara bersama-sama akan menumbuhkan semangat berkolaborasi di antara para peneliti tersebut. Suatu hal yang amat positif.

Melihat manfaat yang dapat diberikan oleh keberadaan suatu infrastruktur komputasi grid di tingkat nasional maka pada makalah ini diajukan rancangan RI-GRID, yaitu infrastruktur komputasi grid di tingkat negara Republik Indonesia yang bertujuan memanfaatkan sumber daya komputasi yang berada di institusi-institusi penelitian baik saat ini maupun di masa akan datang sehingga dapat digunakan oleh para peneliti di negara ini untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.2. Arsitektur RI-GRID
Gambar 3.1 berikut menunjukkan rancangan arsitektur infrastruktur komputasi grid RI. Seperti terlihat pada gambar tersebut, RI-GRID dibangun dengan jalan menggabungkan sistem-sistem komputasi grid yang berada di institusi-institusi penelitian (perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dan lembaga penelitian pemerintah) menjadi satu kesatuan. Konfigurasi perangkat keras dan perangkat lunak masing-masing sistem di tingkat institusi dapat berbeda, namun dengan mengoperasikan teknologi grid computing seperti GT4 pada simpul-simpul penghubung dari masing-masing sistem, keseluruhan sistem membentuk satu kesatuan infrastruktur komputasi grid nasional. Dengan konfigurasi seperti ini, jika dibutuhkan, pengguna di suatu institusi dapat memanfaatkan sumber daya komputasi yang berada di luar institusinya.

GAMBAR 3.1. ARSITEKTUR RI-GRID

 


Konfigurasi yang ditunjukkan pada Gambar 3.1 di atas tidak menuntut masing-masing sistem di tingkat institusi untuk merubah konfigurasi sistem masing-masing secara signifikan. Jika suatu institusi telah mengimplementasikan suatu teknologi grid computing tertentu seperti SUN Grid Engine (SGE) atau teknologi komputasi berbasis jaringan seperti PVM, MPI, Condor maka sistem GT4 dapat dikonfigurasikan untuk berkoordinasi dengan masing-masing teknologi tersebut. 

Salah satu prasyarat dari pembentukan RI-GRID adalah tersedianya suatu backbone jaringan berkapasitas besar untuk menghubungkan simpul-simpul penghubung di masing-masing institusi. Kebutuhan ini dapat dipenuhi oleh IHEN (Indonesian Higher Education Network) [3] yang akan dibangun pada tahun 2006 ini. Bagian utama dari IHEN, yang menghubungkan 6 kota di pulau Jawa, akan memiliki lebar pita mulai 2 Mbps dan akan ditingkatkan sampai 155 Mbps. Disamping itu, interkoneksi IHEN yang juga menghubungkan kota-kota di luar pulau Jawa akan memungkinkan akses atas RI-GRID bagi para peneliti di kota-kota tersebut.


4. PENUTUP
Sistem komputasi berkinerja tinggi berbasis teknologi grid computing tidak identik dengan sistem komputer berharga mahal. Lebih lanjut, infrastruktur komputasi grid nasional dapat dibangun dengan menggabungkan sumber-sumber daya komputasi yang telah ada menjadi satu kesatuan yang kemudian dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, prinsip kolaborasi yang melandasi teknologi grid computing dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk menerapkannya dalam konteks kehidupan yang lain.

5. REFERENSI 
[1] CHEOK Beng Teck, “Development in Grid Activities in Singapore,” 3rd PRAGMA Workshop, January 2003. 
[2] D. Booth, et. Al., “Web Services Architecture,” W3C, Working Draft http://www.w3.org/TR/ 2003/WD-ws-arch-20030808/, 2003.
[3] Ditjen DIKTI, “Kerangka Acuan Kerja Jaringan Pendidikan dan Penelitian Perguruan Tinggi di Indonesia,” Januari 2006.
[4] Ian Foster & Carl Kesselman, “Globus: A Metacomputing Infrastructure Toolkit,” Int’l J. of Supercomputer Applications, 11 (2), 1998.
[5] Ian Foster, Carl Kesselman, Steven Tuecke, “The Anatomy of the Grid: Enabling Scalable Virtual Organizations,” Int’l Journal of Supercomputer Applications, 2001.
[6] Ian Foster, “A Globus Primer ,” Early Draft, May 2005.
[7] Ian Foster, “Service-Oriented Science,” Science, 308 (5723), May 2005.
[8] A. Geist, et. Al., “PVM: Parallel Virtual Machine|A User's Guide and Tutorial for Network Parallel Computing,” MIT Press, 1994.
[9] W. Gropp, E. Lusk, and A. Skjellum, “Using MPI: Portable Parallel Programming with the Message Passing Interface, ” MIT Press, 1995.
[10] M. Litzkow, M. Livney, and M. Mutka, “Condor - a hunter of idle workstations,” in Proc. 8th Int’l Conf. on DCS, 1988.
[11] Kenichi Miura, “Overview of Japanese National Research Grid Initiative (NAREGI) Project,” FUJITSU Sci. Tech. J., 40 (2), December 2004.
[12] N. Ram & S. Ramakrishnan, “GARUDA: India's National Grid Computing Initiative,” CTWatch Quarterly, 2 (1), February 2006.
[13] D. Reed & R. M. Fujimoto, “Multicomputer Networks: Message-Based Parallel Processing, ” MIT Press, 1987.
Read rest of entry

Sabtu, 23 Mei 2009

Makalah Manajemen File Linux

Tugas 2 IF3191 Sistem Operasi











Disusun oleh :
1. Aloysius Nugroho NIM 13501042
2. Dian Drikusuma NIM 13501046
3. Ditto Rahmat NIM 13501076



DEPARTEMEN TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2003
 

I. FILE

Pengertian File

File adalah sekumpulan data/informasi yang saling berhubungan sesuai dengan tujuan pembuatnya.
Data pada file bisa berupa numerik, alpha numerik binary atau text. Setiap File memiliki nama dan pengacuan terhadap suatu file menggunakan nama file tersebut. Pada Linux penamaan File bersifat case sensitif yaitu membedakan antara lower case dan upper case letters sehingga file-file Tugas, tugas, TUGAS, TUGas merupakan file-file yang berbeda. Sebagai perbandingan, pada MS-DOS, file-file tadi dianggap sama.
Pemberian nama dan extention pada Linux tidak dibatasi jumlah karakternya dan suatu file dapat memiliki lebih dari satu extention. Contohnya: prog.c.z yairu prog.c yang sudah dikompres. Selain nama, file memiliki atribut seperti tipe, size, time, date, dan user identification, protection dll. Tipe dari file dikenal dari extentionnya. Dengan tipe inilah OS dapat merespon file secara tepat.
File biasanya disimpan dalam media disk (floppy disk, harddisk, atau CD).
Operasi-operasi file yang biasa dilakukan antara lain: OPEN, CLOSE, CREATE, DELETE, COPY, RENAME, READ, WRITE, UPDATE, INSERT, APPEND.

Pathname

Setiap file memiliki pathname ada 2 macam pathname yaitu:
• Pathname absolut suatu file didapat dari menelusuri path dari root directory, melewati semua direktori sampai ke file yang diinginkan. Pathname absolute diawali dengan /.
• Pathname relatif menelusuri path dari direktori yang sedang digunakan(direktori kerja). Suatu pathname yang tidak diawali / adalah suatu pathname relatif. Seperti pathname absolute, pathname ini mendeskripsikan path melalui direktori yang dilewati.

Pembagian File

Pada umunya, ada dua macam file yang berada pada struktur file, yaitu file direktori dan file biasa. File biasa menyimpan data, sedang file direktori meyimpan nama file yang terdapat pada direktori tersebut.
Sebagian besar file, hanya merupakan file biasa yang disebut file regular yang berisi data biasa sebagai contoh file text, file executable, atau program, input atau output dari program dan lainnya. Selain file biasa ada file-file khusus seperti berikut :
• Directories: file yang berisi daftar dari file lain.
• Special files: mekanisme yang digunakan untuk input dan output. Sebagian besar terdapat pada direktori /dev.
• Links: Sistem untuk membuat file atau direktori dapat terlihat di banayk bagian dari pohon file sistem.
• (Domain) sockets: Jenis file khusus, mirip dengan soket TCP/IP, yang menyediakan jaringan antar proses yang terproteksi oleh file system's access control.
• Named pipes: berfungsi kurang lebih seperti soket dan membentuk jalur untuk proses komunikasi.

Tabel Subdirektori dari Direktori Root
Direktori Isi
/bin Program-program umum, dipakai oleh system, administrator dan user
/boot File startup dan kernel, vmlinuz. Pada distribusi sekarang ini termasuk grub data. Grub adalah GRand Unified Boot loader dan dapat menggantikan banyak boot-loaders yang berbeda yang kita ketahui sekaranag ini.
/dev Berisi referensi kepada semua komponen hardware CPU, yang direpresentasikan dengan property khusus.
/etc File konfigurasi sistem paling penting terdapat pada /etc, direktori ini meyimpan data yang mirip dengan Control Panel pada Windows.
/home Direktori home untuk semua user umum.
/initrd (pada beberapa distribusi) Berisi informasi untuk booting. Tidak boleh dihapus!
/lib File library, termasuk file – file untuk semua jenis program yang dibutuhkan oleh sistem dan user.
/lost+found Setiap partisi memiliki sebuah lost+found pada setiap direktori diatasnya. File – file yang tersimpan sebelum terjadi crash tersimpan disini.
/misc Untuk pengunaan serba guna.
/mnt Titik penyambungan standar untuk file sistem eksternal, seperti CD-ROM, kamera digital, floppy, USB
/net Titik penyambungan standar untuk file sistem remote
/opt Pada umumnya berisi software ekstra dan pihak ketiga (tambahan)
/proc Sebuah virtual file system yang mengandung informasi mengenai system resource. Informasi lebih lanjut mengenai pengertian dari file pada proc diketahui dengan memasukkan perintah man proc pada terminal. File proc.txt membicarakan detil dari virtual file system.
/root Direktori home dari user administrator. Perlu dibedakan antara /,direktori root dan /root, direktori home dari user root
/sbin Program-program yang dipakai oleh sistem dan administrator
/tmp Memori sementara yang dipakai oleh sistem.
/usr Program-program, libraries, dokumentasi dll. Untuk semua program yang terkait dengan user.
/var Media penyimpanan untuk semua file variabel dan file sementara yang dibuat oleh user seperti file log, antrian mail, print spooler area, memori untuk penyimpanan sementara dari file yang sudah di download dari internet atau untuk menyimpan image dari CD sebelum dibakar.

Operasi pada File dan Direktori

File
• cat Menampilkan isi file.
• cp Menyalin satu atau beberapa file.
• find Mencari file tertentu pada suatu direktori.
• ls Menampilkan informasi dari file.
• more Menampilkan isi suatu file teks per layar.
• mv Memindahkan file ke direktori lain atau mengubah nama file.
• pg Menampilkan isi suatu file teks per layar.
• rm Menghapus file.
Direktori
• cd Mengaktifkan suatu direktori sebagai direktori kerja.
• copy Menyalin seluruh struktur direktori (termasuk file dan subdirektori).
• mkdir Membuat direktori baru.
• pwd Menampilkan nama direktori kerja.
• rmdir Menghapus direktori.
• mv Mengubah nama direktori.


Struktur File

Adapun struktur dari file dapat dilihat seperti berikut ini:

struct file {
  struct list_head f_list;
  struct dentry *f_dentry;
struct file_operations *f_op;
atomic_t f_count;
unsigned int f_flags;
mode_t f_mode;
  loff_t f_pos;
unsigned long f_reada,f_ramax,f_raend,f_ralen,f_rawin;
struct fown_struct f_owner;
unsigned int f_uid,f_gid;
int f_error;
unsigned long f_version;
  /* needed for tty driver and maybe others */
void *private_data;
};

Penjelasan dari struktur file diatas:
• f_list : menyambungkan semua file ke dalam beberapa list
• f_dentry : pointer yang menunjuk pada objek dentry yang berkaitan
• f_op : pointer yang menunjuk pada tabel operasi tabel
• f_mode : mode proses akses
• f_pos : current file offset (pointer file)
• f_count : counter penggunaan obyek file
• f_flags : flag yang dibuat saat file dibuka
• f_reada : flag yang digunakan untuk read head
• f_ramax : jumlah maksimum page yang akan di-read ahead
• f_raend : pointer file setelah read ahead terakhir
• f_ralen : jumlah byte yang di-read ahead
• f_rawin : jumlah page yang di-read ahead
• f_owner : data untuk I/O asynchronous melalui signal
• f_uid : ID user pemilik file
• f_gid : ID grup user pemilik file
• f_error : kode kesalahan untuk operasi write network

 

II. FILE SISTEM

Gambaran Umum File Sistem

Selain format fisik, hard diskjuga menyimpan struktur datanya dalam suatu format lojik. Format yang dipakai ini diberi nama File Sistem. Jadi, File Sistem adalah suatu struktur yang digunakan sistem operasi untuk menyimpan dan membaca data dari hard disk.
Adapun contoh-contoh format file system sebagai berikut : FAT (File Allocation Table), FAT32 (File Allocation Table 32), NTFS (New Technology File System) (Ketiga varian ini umum digunakan untuk platform Windows), Ext, Ext2, Ext3 (Ketiga varian ini umum digunakan untuk platform Linux), OS/2, HPFS, Reiser dll. 

Pembagian File Sistem Secara Ortogonal

Shareable dan Unshareable
1. Shareable 
Isinya dapat di-share (digunakan bersama) dengan sistem lain, gunanya untuk
menghemat tempat.
2. Unshareable
Isinya tidak dapat di-share(digunakan bersama) dengan sistem lain, biasanya untuk
alasan keamanan.

Variabel dan Static
1. Variabel
Isinya sering berubah-ubah.
2. Static
Sekali dibuat, kecil kemungkinan isinya akan berubah. Bisa berubah jika ada
campur tangan sistem admin.


Langkah-langkah Optimasi File Sistem

• Kurangi jumlah I/O yang mengakses storage device sebanyak mungkin
• Kelompokkan I/O menjadi kelompok yang besar
• Optimasi pola pencarian blok untuk mengurangi seek time
• Gunakan cache semaksimal mungkin untuk mengurangi beban I/O device

Virtual File System pada Linux

Kernel Linux telah mengembangkan VFS (Virtual File System) yang dapat mengenali data yang menggunakan File Sistem lain. File Sistem yang dikenali oleh Virtual File System Linux terbagi menjadi 3jenis, yaitu:
1. Disk Based filesystem
Tipe file sistem ini memanage space memori yang bisa digunakan pada partisi disk local. Tipe file sistem ini yang lumrah adalah Ext2. Tipe lain yang dikenal dengan baik oleh
VFS adalah :
1. File system bagi varian Unix seperti system V dan BSD.
2. Microsoft filesystem seperti MS-DOS, VFAT (Windows 98) dan NTFS (Windows NT).
3. File system ISO96660 CD-ROM.
4. File system lain seperti HPFS (IBM’s, OS/2), HFS (Apple Machintosh), FFS (Amiga’s Fast Filesystem) dan ADFS (Acorn’s machines).
2. Network Filesystem
Tipe sistem file ini memungkinkan akses yang mudah ke suatu file yang terdapat pada
jaringan komputer lain. Beberapa filesystem jenis ini yang dikenal dengan baik oleh VFS adalah : NFS, Coda, AFS (Andrews Filesystem), SMB (Microsoft’s Windows dan IBM’s OS/2 LAN Manager) dan NCP (Novell’s NetWare Core Protocol).
3. Special Filesystem
Tipe ini tidak mengijinkan mengatur space disk. Pada direktori /proc menyediakan interface yang mengijinkan user untuk mengakses struktur data kernel. Direktori /dev/pts digunakan sebagai pendukung terminal semu. Seperti yang digambarkan pada standar Open Group’s Unix98.

Mounting dan Unmounting

Agar suatu file system dapat dikenali oleh Virtual File System Linux, perlu dilakukan suatu proses yang disebut mounting.
Proses mounting sebenarnya adalah merepresentasikan file yang terdapat pada device eksternal (misal: disket) yang menggunakan file sistem lain menjadi inode sementara agar dapat dibaca seperti layaknya file lainnya oleh Virtual File System Linux.
Jika kita melakukan perubahan pada file (menambah, mengurangi, mengganti), hal tersebut tidak dilakukan langsung pada device tapi disimpan dalam media sementara. Untuk meyimpan perubahan, harus dilakukan proses unmounting, yaitu menghapus inode sementara yang dipakai sebelumnya dan menyimpan perubahan (jika ada) yang telah dilakukan pada device. Karena itu proses unmounting sangat perlu dilakukan.

 

III. LINUX EXTENDED FILE SYSTEM

Sejarah perkembangan Extended File System

Versi mLinux yang pertama berbasis pada file sistem Minix. Setelah Linux semakin berkembang, Extended File System (Ext FS) diperkenalkan. Ada beberapa perubahan signifikan tetapi kinerjanya masih kurang memuaskan. Pada tahun 1994 Second Extended Filesystem (Ext2) diperkenalkan. Di samping adanya beberapa fitur baru, Ext2 sangat efisien, handal dan fleksibel sehingga menjadi file sistem Linux yang paling banyak digunakan.

Linux Second Extended File System (Ext2FS)

Untuk sebagian besar user dan system administration tasks yang umum, file dan direktori mudah untuk diterima seperti struktur pohon. Komputer bagaimanapun tidak bisa melihat hal tersebut seperti struktur pohon.
Setiap partisi memiliki sistem file sendiri. Dengan membayangkan sistem file bersamaan, kita dapat membentuk sebuah ide mengenai struktur pohon dari seluruh sistem, tapi tidak sesederhana itu. Dalam sebuah sistem file, file direpresentasikan dengan inode, sejenis nomor seri unik yang berisi informasi tentang data sebenarnya yang membentuk sebuah file: milik siapa file tersebut, dan dimana file tersebut terletak pada harddisk.
Setiap partisi memiliki himpunan inode tersendiri, pada sistem yang memiliki banyak partisi, bisa terdapat beberapa file dengan nomor inode yang sama.
Setiap inode menggambarkan struktur data pada harddisk, menyimpan properti dari file, termasuk lokasi fisik dari data file. Ketika harddisk disiapkan untuk menerima peyimpanan data, biasanya selama proses instalasi sistem awal atau ketika menambahkan disket tambahan ke dalam sistem yangada, sejumlah inode per partisi yang pasti diciptakan. Jumlah ini akan menjadi jumlah maksimum file, dari berbagai tipe (termasuk direktori, file khusus, link, dll.) yang dapat muncul pada saat yang sama pada sebuah partisi. Pada umumnya terdapat 1 inode setiap 2 sampai 8 KB.
Mekanisme Second Extended File System (Ext2FS)

Ext2fs menggunakan mekanisme yang mirip dengan BSD Fast File System (ffs) dalam mengalokasikan blok-blok data dari file, yang membedakan adalah :
• Pada ffs, file dialokasikan ke disk dalam blok sebesar 8KB, dan blok-blok itu dibagi menjadi fragmen-fragmen 1KB untuk menyimpan file-file berukuran kecil atau blok-blok yang terisi secara parsial di bagian akhir file.
• Ext2fs tidak menggunakan fragmen, pengalokasian dalam unit-unit yang lebih kecil. Ukuran blok secara default pada ext2fs adalah 1KB, meskipun mendukung juga pengalokasian 2KB dan 4KB.
• Alokasi pada Ext2fs didesain untuk menempatkan blok-blok lojik dari file ke dalam blok-blok fisik pada disk, dengan demikian I/O request untuk beberapa blok-blok disk secagai operasi tunggal.

Kehandalan Second Extended File System Ext2FS

• Administrator sistem dapat memilih ukuran blok yang optimal (dari 1024 sampai 4096 bytes), tergantung dari panjang file rata-rata, saat membuat file sistem.
• Administrator dapat memilih banyak inode dalam setiap partisi saat membuat file sistem.
• Strategi update yang aman dapat meminimalisasi dari system crash.
• Mendukung pengecekan kekonsistensian otomatis saat booting.
• Mendukung file immutable (file yang tidak dapat dimodifikasi)dan append-only (file yang isinya hanya dapat ditambahkan pada akhir file tersebut).


Informasi yang Disimpan pada Inode
• Device tempat inode berada
• Mode file
• Locking information
• Pemilik dan grup pemilik dari file tersebut.
• Jenis file (regular, direktori, dll.)
• Hak akses atas file.
• Waktu pembuatan, pembacaan, dan perubahan terakhir.
• Waktu perubahan informasi pada inode.
• Jumlah link yang menunjuk ke file ini.
• Ukuran file.
• Alamat yang menunjukan lokasi sebenarnya dari data file.
Satu – satunya informasi yang tidak tersimpan pada inode adalah nama file dan direktori. Informasi ini tersimpan pada file direktori khusus. Dengan membandingkan nama file dan nomor inode, sistem dapat membangun struktur pohon yang dapat dimengerti user. User dapat melihat nomor inode dengan menggunakan opsi –i pada perintah ls. Masing-masing inode memiliki ruang memori yang terpisah pada disk.

Pembagian Blok

 
Layout dari partisi dan group block Ext2FS

Keterangan:
Setiap partisi terbagi menjadi:
• Boot block, yang merupakan blok pertama, dipakai untuk booting, sehingga tidak diurusi oleh Ext2FS.
• Block group sebanyak n buah. Setiap block group berukuran sama dan terdiri dari:
o Super Block, disimpan dalam struktur ext2_super_block
o Group Descriptor, disimpan dalam bentuk xt2_group_desc
o Data Block Bitmap
o Inode Bitmap
o Inode Table, terdiri dari kumpulan block yang berurutan, dan masing-masing blok mengandung sejumlah inode yang terlah terdefinisi sebelumnya. Semua inode memiliki ukuran sama.
o Data Blocks, menyimpan data sebenarnya dari file.

Struktur inode dalam Linux diimplementasikan sebagai berikut :
struct inode {
struct list_head i_hash;
struct list_head i_list;
struct list_head i_dentry;
unsigned long i_ino;
unsigned int i_count;
kdev_t i_dev;
umode_t i_mode;
nlink_t i_nlink;
uid_t i_uid;
gid_t i_gid;
kdev_t i_rdev;
off_t i_size;
time_t i_atime;
time_t i_mtime;
time_t i_ctime;
unsigned long i_blksize;
unsigned long i_blocks;
unsigned long i_version;
unsigned long i_nrpages;
struct semaphore i_sem;
struct inode_operations *i_op;
struct super_block *i-sb;
wait_queue_head_t i_wait;
struct file_lock *i_flock;
struct vm_area_struct *i_mmap;
struct page *i_pages;
spinlock_t i_shaerd_lock;
struct dquot *i_dquot(MAXQUOTAS);
struct pipe_inode_info *i_pipe;
unsigned long i_state;
unsigned long i_flags;
unsigned char i_sock;
atomic_t i_writecount;
unsigned int i_attr_flags;
_u32 i_generation;
union {
...
struct extfs_inode_info ext2_i;
...
struct socket socket_i;
void *generic)ip;
}u;
};

Linux Third Extended File System (Ext3FS)
 
Ext3FS merupakan pengembangan dari Ext2FS. Ext3FS memiliki beberapa kelebihan antara lain:
• Optimasi waktu pengecekan jika terjadi kegagalan sumber daya, kerusakan sisem atau unclean shutdown. 
Setelah mengalami kegagalan sumber daya, unclean shutdown, atau kerusakan sistem, Ext2FS harus melalui proses pengecekan. Proses inidapat membuang waktu sehingga proses booting menjadi sangat lama, khususnya untuk disk besar yang mengandung banyak sekali data. Dalam proses ini, semua data tidak dapat diakses. Jurnal yang disediakan oleh EXT3 menyebabkan tidak perlu lagi dilakukan pengecekan data setelah kegagalan sistem. EXT3 hanya dicek bila ada kerusakan hardware seperti kerusakan hard disk, tetapi kejadian ini sangat jarang. Waktu yang diperlukan EXT3 file sistem setelah terjadi unclean shutdown tidak tergantung dari ukuran file sistem atau banyaknya file, tetapi tergantung dari besarnya jurnal yang digunakan untuk menjaga konsistensi. Besar jurnal default memerlukan waktu kira-kira sedetik untuk pulih, tergantung kecepatan hardware.
• Integritas data dan kecepatan akses yang fleksibel.
o Ext3FS menjamin adanya integritas data setelah terjadi kerusakan atau unclean shutdown. Ext3FS memungkinkan kita memilih jenis dan tipe proteksi dari data.
• Mudah melakukan migrasi dari Ex2FS.
o Kita dapat berpindah dari EXT2 ke sistem EXT3 tanpa melakukan format ulang.
• Cepat
o Daripada menulis data lebih dari sekali, EXT3 mempunyai throughput yang lebih besar daripada EXT2 karena EXT3 memaksimalkan pergerakan head hard disk. Kita bisa memilih tiga jurnal mode untuk memaksimalkan kecepatan, tetapi integritas data tidak terjamin.
Read rest of entry
 

My Blog List

Link

Education and Training Blogs - BlogCatalog Blog Directory

cari artikel, makalah, skripsi disini Copyright © 2009 FreshBrown is Designed by Simran